Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2023

Batu Loncatan Itu Seharusnya Tempat Kita Berpijak

Masih bangun. Jam segini . Sedang suntuk dan lelah untuk berpuisi cengeng soal cinta di blog satunya lagi. Saya memutuskan untuk menumpahkan isi kepala yang sejujurnya jarang begitu berisi di sini untuk saat ini. Saat kalimat ini ditulis, kalender menunjukan tanggal 14 Mei, mungkin di akhir tulisan ini sudah jadi 15.  Aksi Kamisan 773 Semua orang di republik ini harusnya familier dengan tanggal-tanggal ini. Medio 12-15 Mei adalah tanggal-tanggal sakral kemanusiaan, trauma, dan kisah heroik atas keberdayaan rakyat melawan kekuasaan ada dalam satu helaan napas yang sama. Saya selalu bersyukur bisa ditempatkan pada suatu lingkungan yang begitu sadar dan melek atas peristiwa-peristiwa tersebut. Namun, di sisi lain saya kadang merasa saya bukanlah orang yang tepat dan berhak untuk bicara masalah ini.  Peristiwa ini terjadi 4 tahun sebelum saya lahir ke bumi Cengkareng, Jakarta Barat. Sedari kecil, keluarga saya yang mayoritas Betawi Asli rutin menceritakan betapa mencekam masa-masa...

You need to kill to live

Kepala saya penuh pukul sebelas lewat empat belas malam ketika tangan mulai menggerayangi keyboard untuk menuliskan tulisan ini. Di kepala terputar suara Biarawati yang sedang mengajarkan saya Agama Katolik ketika SD. Saya bukan Katolik, apalagi pemeluk atau pemercaya Tuhan yang taat. Saya sering ingkar, malas, bahkan skeptis atas eksistensi dan kredibilitas Tuhan. Tapi yang jelas, saya ingat definisi manusia diucapkan sang suster bahwa kita itu makhluk sosial. Lalu setelah itu ia meneruskan kalimatnya dengan definisi "kasih" ala Katolik yang tak begitu saya dengarkan karena sedang sibuk bercerita dengan teman sebangku mengenai episode One Piece terbaru.  Saya seyogyanya mempercayai hal tersebut. Bahwa manusia itu makhluk sosial, selalu bergantung pada orang lain, selalu bersimbiosis baik mutualisme maupun parasitisme. Namun, hal tersebut seolah dibantai kenyataan ketika pada akhirnya manusia secara massal terpaksa mengalami near death experience. Pandemi Covid-19 mengelimina...