Langsung ke konten utama

Batu Loncatan Itu Seharusnya Tempat Kita Berpijak

Masih bangun. Jam segini. Sedang suntuk dan lelah untuk berpuisi cengeng soal cinta di blog satunya lagi. Saya memutuskan untuk menumpahkan isi kepala yang sejujurnya jarang begitu berisi di sini untuk saat ini. Saat kalimat ini ditulis, kalender menunjukan tanggal 14 Mei, mungkin di akhir tulisan ini sudah jadi 15. 

Aksi Kamisan 773

Semua orang di republik ini harusnya familier dengan tanggal-tanggal ini. Medio 12-15 Mei adalah tanggal-tanggal sakral kemanusiaan, trauma, dan kisah heroik atas keberdayaan rakyat melawan kekuasaan ada dalam satu helaan napas yang sama. Saya selalu bersyukur bisa ditempatkan pada suatu lingkungan yang begitu sadar dan melek atas peristiwa-peristiwa tersebut. Namun, di sisi lain saya kadang merasa saya bukanlah orang yang tepat dan berhak untuk bicara masalah ini. 

Peristiwa ini terjadi 4 tahun sebelum saya lahir ke bumi Cengkareng, Jakarta Barat. Sedari kecil, keluarga saya yang mayoritas Betawi Asli rutin menceritakan betapa mencekam masa-masa bagai perang itu, tak jarang disertai gambaran jenaka yang ironis menghadapi krisis yang mereka alami. Mereka jarang membumbui cerita mereka dengan pandangan dan konteks sejarah maupun sosial politik di dalamnya, yang mereka tahu sederhananya adalah rakyat marah dengan Soeharto yang membuat keadaan negara menjadi susah. Lalu, mereka gambarkan kejadian-kejadian itu langsung dari ingatan mereka, dari banyaknya pusat perbelanjaan yang dibakar, penjarahan, hingga kekerasan kepada etnis Tionghoa yang menurut mereka ada di level absurd dan tak pernah mereka lihat sebelumnya. Mereka menceritakan betapa gelapnya langit Jakarta di bawah terik matahari dan dinginnya malam menggigit nadi. Tentara masuk ke ruang-ruang sipil dan ketakutan merasuki selimut-selimut dan bantal tidur mereka. 

Cerita sederhana-sederhana itu memberi bekal pada pandangan saya mengenai peristiwa 25 tahun lalu itu. Di sekolah, guru-guru menceritakan hal-hal yang sama ditambah dengan konteks-konteks ala kadarnya dari kurikulum buatan pemerintah. Namun, hal itu sudah cukup memberikan saya rasa penasaran untuk menelusurinya lebih lanjut. Saya penasaran bagaimana sudut pandang cerita setiap orang baik dalam konteks pendidikan dan cerita sehari-hari bisa begitu serupa. Saya penasaran seberapa nyata dan dekat peristiwa ini kepada masyarakat. 

Selagi penelusuran peristiwa-peristiwa itu berjalan, saya tak sadar telah menginjak SMA. Saya gagal masuk negeri favorit karena malas-malasan di UN Matematika dan berakhir di sebuah sekolah swasta yang mayoritas dihuni oleh etnis Tionghoa, yang mana bukanlah hal yang baru untuk saya sebab dari TK pun saya sekolah di sebuah yayasan swasta dengan demografi etnis serupa. 

Namun, saya menyadari perbedaan mendasar di sana. Saya sadar selama hidup saya, saya tak pernah menjadi seseorang yang betul-betul minoritas di satu kelas. Sebagai gambaran, selama 3 tahun saya menghabiskan SMA, saya adalah satu-satunya orang yang tak merayakan Imlek di kelas tersebut. 

Dari sana saya menyadari distorsi budaya yang kental pada tingkat yang paling jujur. Beruntung memang saya tak mengalami, bullying atau setidaknya tidak pernah merasa dibullying. Sebab tentu menjadi makanan sehari-hari dipanggil "Tiko" ataupun "Fankuy" ketika Anda satu-satunya pribumi menghadapi puluhan teman beretnis Tionghoa. Namun, setidaknya saya sadar itu bukan dengan intensi untuk menghina ataupun menyerang, sebaliknya saya melihat ini sebagai sebuah gambaran ironi atas bekas luka kekerasan etnis yang membekas puluhan tahun lalu.

Lalu, di sana pun saya menjalin dua kisah cinta. Dua kisah cinta saya yang terhalang dengan hal yang sama: beda etnis dan agama. Penolakan-penolakan dari orang tua masing-masing perempuan yang saya cinta ini sampai di telinga saya dengan tone paling buruk atas impresi terhadap saya. Bagaimana sebutan "Tiko" dan "Fankuy" yang biasa saya telan dengan konteks canda menjadi sebuah diksi dengan konotasi yang sebenar-benarnya kata tersebut dilayangkan demi menjauhkan saya. Awalnya tentu hal ini begitu absurd dan tak masuk akal diterima kepala, namun pada akhirnya sudut pandang dan cerita-cerita yang ada di suatu tempat di kepala saya itu memberi saya untaian tali untuk menggabungkan konteks atas kekerasan dan gesekan etnis yang pernah terjadi sebagai satu dari berbagai faktor atas apa yang saya alami. Dari sana, saya menyadari bagaimana trauma bertahan pada suatu generasi, tersimpan erat dan tak mampu digerus oleh masa. Saya memaklumi atau setidaknya berusaha berpikir kejadian-kejadian tak mengenakan tersebut terjadi akibat sebuah pola berkepanjangan atas kekerasan yang etnis tersebut rasakan dan menjadi luka yang menggenerasi sehingga kemudian berlaku defensif adalah solusi paling rasional.

Memasuki kuliah, luka dan pengetahuan-pengetahuan itu saya bawa. Beruntunglah saya, kuliah membawa saya berada langsung di lapangan yang sempat saya telusuri menjelang masuk SMA. Saya bertemu dengan beberapa orang macam saya dan bahkan bisa bertemu, berhubungan, bahkan bekerja secara langsung dengan tokoh-tokoh yang saya baca, tonton, dan dengar kesaksian-kesaksiannya pada peristiwa-peristiwa kelam tersebut. Saya yang dulu mendengar cerita-cerita tersebut dari kesaksian sumber ketiga, keempat, dan ratusan lainnya kini bisa mendengar langsung kesaksian-kesaksian dan tangis korban yang benar-benar menghadapi peristiwa tersebut di depan mata kepalanya. Melihat bagaimana dari banyaknya orang yang menapakkan kaki di Jakarta dan menjalankan kehidupannya, beberapa orang tersendat detik-detik di arlojinya sebab realita yang jutaan kali lipat lebih buruk dari mimpi-mimpi buruk di tidurnya.

Aksi Kamisan 773

Saya melihat bagaimana tangis masih pecah dari sepasang mata seorang ibu yang setelah 25 tahun masih merekam jelas jasad anaknya. Istri dan anak-anak yang masih menunggu di depan pintu akan kepulangan kepala keluarganya. Perempuan yang menyimpan kejadian-kejadian yang dialami tubuhnya di ujung lidahnya. Keluarga yang jatuh miskin karena toko dan tempat tinggalnya hangus terbakar. 

Pengalaman-pengalaman yang tentu masih jauh dibanding beberapa orang lainnya yang mengalami langsung kejadian-kejadian itu, membuat saya tersadar bahwa 1998 ke 2023 barangkali memang mudah dikalkulasi. Dalam konteks kenegaraan, reformasi pun sebatas peristiwa pergantian rezim politik atau demokratisasi melawan Jenderal yang rakus kekuasaan. Sedang jalan-jalan yang penuh darah itu telah dicor kembali. Cerita-cerita itu cukuplah diungkap setahun sekali dua kali. Sementara pelaku-pelaku yang menyimpan bercak darah sedang menandatangani peraturan di kementerian yang dipimpinnya dengan tangan yang sama yang ia pakai untuk membunuh anak dari seorang ibu, menghilangkan sosok ayah dari anak-anaknya, dan membiarkan seorang perempuan diperkosa di jalan.

Namun, pada dasarnya seharusnya kita paham bahwa reformasi bukan sekadar hitung-hitungan 2023 dikurang 1998. Bukan sebatas isu diskusi publik di kampus yang sarat kepalan tangan dan semboyan. Apalagi materi kampanye yang punya kepentingan demi beberapa kursi kekuasaan.

Reformasi yang kita tahu ialah sebuah perubahan. Selayaknya sebuah perubahan, idealnya memang kita ikut berubah. Bukan mengkompromikan komitmen dan tanggung jawab dasar atas keadilan demi segelintir kepentingan yang membiarkan darah terus mengalir di lantai-lantai kekuasaan. Reformasi seharusnya menjadi sebuah batu yang kita pijak, bukan yang kita loncati untuk mengulangi hal-hal yang sama lagi. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Lima adalah Kemenangan Terakhir sebab Negara Kita Pengecut dan Durhaka

Saya mengetik kalimat demi kalimat di dalam tulisan ini dengan perasaan yang begitu penuh dan beragam. Rasa yang tak hanya dirasakan sukma secara emosional namun begitu nyata bereaksi pada ketubuhan saya. Ada kemarahan yang tak pernah saya rasakan sebelumnya, yang membuat tangan mengepal tiada henti. Ada perasaan takut yang menyelinap masuk pori-pori yang membuat saya tak bisa duduk dengan cukup tenang. Ada perasaan terluka yang membuat paru-paru saya seolah menghirup udara sekaligus logam-logam tak kasat mata.  Saya menyadari rasa ini akan menjadi normal yang baru ketika saya mendengar nama Andrie Yunus. Setahun lalu, ulahnya mendobrak Fairmont membuat saya menulis begitu panjang mengenai amarah-- hari ini, jeritnya, lukanya, dan keberaniannya mewakili perasaan saya dan seharusnya semua warga sipil di republik ini. Saya bukan orang yang cukup sering bersinggungan dengannya-- interaksi saya sebatas bertegur sapa ketika menghadiri Kamisan atau rapat-rapat koalisi masyarakat sipil-- ...

Cemong

Kamu bukan kucing pertama yang aku namain Cemong. Cemong sepemahamanku berarti noda di muka-- yang mana motif warnamu yang belang-belang bikin aku kasih nama itu lagi, Ce buat kamu. Tapi kamu Cemong pertama yang kalau ku pendekin namanya, ku panggil Ce' -- yang lain biasanya " Mong atau Emong ". Kamu juga Cemong paling lama yang singgah di rumah. Biasanya anak-anak kucing kayak kamu netap paling lama 2-3 bulan, ibumu suka galak ngusir anak-anaknya, tapi kamu di rumah hampir 6-7 bulan ke belakang. Kamu pun gak pernah jalan jauh-jauh dari garasi dan jalanan depan rumah. Sadar kali ya kamu, kamu tinggal di negara yang hancur lebur, jadi memang tempat yang aman ya di rumah aja, toh dunia kucing gak perlu bayar pajak, kan.  Aku panggil kamu "Ce "  juga sebenarnya baru-baru ini kan, Cemong . Gara-gara aku nonton SORE dan selalu dengar Yandy Laurens manggil Sheila Dara, Sye waktu promo filmnya, makanya aku panggil kamu itu . Lucu aja di aku manggil kamu gitu-- dan kamu...

Cinta Pertama dan Terakhir

Apa yang akan kamu lakukan ketika cinta pertamamu datang kembali ke hidupmu?  Perasaan seperti apa yang akan hadir pertama menyelimutimu? Pikiran macam apa yang akan pertama kali muncul di dalam kepalamu? Apa ekspektasi yang kemudian tak akan terhindarkan muncul? Kira-kira pikiran dan pertanyaan semacam itu yang muncul di dalam benak saya, ketika pertama kali tahu bahwa SORE: Istri dari Masa Depan, sebuah webseries karya filmmaker yang saya kultus habis-habisan, Yandy Laurens (bisa dilihat di review saya di karyanya yang lain, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film) diumumkan akan dibawa ke layar lebar. Karya Yandy tersebut, memang seperti cinta pertama bagi saya. SORE bahkan technically membantu saya menemukan cinta pertama saya ketika duduk di bangku SMA-- ketika suatu waktu saya dapat "meracuninya" untuk maraton webseries ini-- yang membuatnya kemudian memilih beberapa lagu Adhitia Sofyan menjadi yang terfavorit baginya, selayaknya saya yang dipilihnya sebagai manusia favoritny...