Kepala saya penuh pukul sebelas lewat empat belas malam ketika tangan mulai menggerayangi keyboard untuk menuliskan tulisan ini. Di kepala terputar suara Biarawati yang sedang mengajarkan saya Agama Katolik ketika SD. Saya bukan Katolik, apalagi pemeluk atau pemercaya Tuhan yang taat. Saya sering ingkar, malas, bahkan skeptis atas eksistensi dan kredibilitas Tuhan. Tapi yang jelas, saya ingat definisi manusia diucapkan sang suster bahwa kita itu makhluk sosial. Lalu setelah itu ia meneruskan kalimatnya dengan definisi "kasih" ala Katolik yang tak begitu saya dengarkan karena sedang sibuk bercerita dengan teman sebangku mengenai episode One Piece terbaru.
Saya seyogyanya mempercayai hal tersebut. Bahwa manusia itu makhluk sosial, selalu bergantung pada orang lain, selalu bersimbiosis baik mutualisme maupun parasitisme. Namun, hal tersebut seolah dibantai kenyataan ketika pada akhirnya manusia secara massal terpaksa mengalami near death experience. Pandemi Covid-19 mengeliminasi mentah-mentah anggapan tersebut. Manusia yang makhluk sosial dibatasi untuk bersosialisasi. Bahkan untuk bicara dan bersentuhan dengan orang lain kita berisiko merusak paru-paru kita. Kita bahkan tak bisa berjabat tangan, melihat wajah seseorang, apalagi berciuman. Dunia gonjang-ganjing tanpa Gatot Kaca. Ekonomi melempem bagai bakwan yang tak kian dimakan semenjak bulan puasa lalu. Kelas menengah jatuh miskin, mahasiswa terjerat pinjol, petani gagal panen, dan buruh diPHK sementara negara dan oligarki semakin kaya karena berhasil mengeksploitasi keadaan. Mental terdampar di kepulauan terpencil tanpa internet. Kita terasing dengan dunia luar, memagari dan memberi batasan agar tak mati duluan, merangkul kejauhan sekaligus menghindari kedekatan. Pandemi pada akhirnya jadi variabel penting yang menunjukan refleksi cermin dari kehidupan, ialah untuk bertahan.
Maka manusia berubah atas sudut pandang itu. Pandemi yang membawa arti penting bertahan hidup tersebut membuat kita ogah bersanding dengan begitu dekat dengan kematian, kesengsaraan, dan kerisauan kembali. Kita mulai sadar bahwa relasi sosial kita mungkin bukan simbiosis, melainkan predasi bahkan untuk yang vegan sekalipun. Kita menjadi orang yang ora mau ribet. Pragmatis. Jose Mourinho bukan Pep Guardiola. Tatanan pertahanan kita sudah diobrak-abrik 2 gol melawan tim unggulan dan tentu ini bukan saatnya kita main cantik.
Orientasi dan sektor-sektor kehidupan berubah drastis. Overton Window tak lagi bergeser melainkan terbolak-balik. Moralitas menjadi overrated, kepercayaan kian langka, kebenaran semakin abstrak. Barulah kita sadar bahwa New Normal ialah normalisasi atas kegagalan kita menghadapi kegilaan. Fase denial massal yang membawa kita pada anomali kehidupan sosial dari si paling makhluk sosial. Tapi inilah yang harus kita lalui, setelah 3 tahun mengurung diri dan mengkonversi kematian menjadi angka. Neraka-neraka kecil di setiap helaan napas.
Komentar
Posting Komentar