Saya bukanlah seorang yang asing dengan karya-karya Yandy Laurens. Sedari umur yang terbilang belia, saya gemar menonton berbagai karya Yandy dalam bentuk webseries. Semuanya bertema dan bergenre romantis dan umumnya diberi bumbu fantasi sebagai pelengkap tabuhan cerita yang disampaikannya. Kegemaran saya mengonsumsi karya-karyanya membuat saya sedikit banyak mengagumi Yandy sebagai seorang pencerita, atau karena mediumnya film, kita sebut sebagai sutradara.
Puncaknya, Yandy Laurens transmigrasi ke layar lebar dengan IP sinetron legendaris, Keluarga Cemara sebagai debutnya, yang lagi-lagi dieksekusi dengan begitu baik dan terbilang menghasilkan. Lalu, di penghujung 2023, Yandy Laurens dan Cerita Filmsnya kembali muncul ke layar lebar dengan karya orisinil layar lebar perdananya, "Jatuh Cinta Seperti di Film-Film". Film yang diproduksi oleh Imajinari Films dan diproduseri Ernest Prakasa ini kemudian debut di JAFF 2023.
Saya mendefinisikan karya Yandy yang satu ini sebagai dua hal: sebuah surat cinta (layaknya karakter utama filmnya yang membuat film di dalam film ini, gitu deh) dan ajang pamer cara bercerita ala Yandy Laurens. Film yang menghiasi layar selama 118 menit ini adalah sebuah definisi harafiah berada di tengah-tengah, layaknya Pulau Jawa di pantun dalang OVJ. Sebuah film yang menunjukan keskenaan dan kesinemaannya namun secara bersamaan mampu begitu membumi untuk kemudian dapat dinikmati berbagai kalangan.
Inilah yang menyebabkan naskah film ini layaknya ditulis sebagai sebuah surat cinta. Tak hanya perspektif penceritaan yang dekat dengan pembuatan film, film ini menerjamahkan berbagai isu dan stereotip di dalam sinema dengan begitu serampangan namun disampaikan tanpa sedikitpun kesan berantakan, urakan, ataupun ugal-ugalan. Spesialnya, hal ini dapat langsung dirasakan di menit-menit awal film, tak lama setelah trailer film-film horor yang menyebalkan ditayangkan dan Nicolas Saputra menggoreng nuggetnya. Film ini dibuka dengan sequence penuh dialog dan long shot yang berani dan berisiko, yang berada di takaran yang pas untuk tidak menjadi dragging namun masih mampu menerjemahkan kehangatan, kejenakaan, dan kadang satir kepada setiap penontonnya dengan sopan. Hal ini kemudian diteruskan hampir di sepanjang film ini berlangsung. Kemudian, Yandy menerjemahkan cintanya dengan film dan sinema dengan penggunaan meta yang tepat guna, kita akan dengan mudah menemukan pengimplementasian callback, breaking the 4th wall, dan berbagai teknik penceritaan lainnya dengan begitu smooth dan effortless. Timing penggunaan elemen komedi di film ini pun terasa pas yang seolah membongkar kekurangan film-film dengan genre rom-com serupa yang kadang justru menjahit elemen komedi dan drama seolah air dan minyak dan membuatnya terpisah dari elemen penceritaan. Sedangkan film ini dengan presisi menempatkan komedi sebagai gula yang larut dengan sempurna dari sebuah tegukan es teh manis di terik siang. Surat cinta ini lengkap dengan sentuhan pendalaman karakter yang baik dan dieksekusi dengan begitu baik pula oleh setiap pemainnya, mulai dari karakter utama, seperti Bagus dan Hanna yang diperankan oleh Ringgo Agus Rahman dan Nirina Zubir, hingga karakter seperti Mbak Yati, seorang cameo di toko bunga yang bahkan kebagian untuk menyampaikan cerita di paruh akhir film. Tak lupa, pemilihan soundtrack yang manis khas karya-karya Yandy lainnya tak absen melengkapi pagelaran di layar lebar bersamaan dengan sinematografi yang megah ditunjukan lengkap dengan frame hitam-putih hampir di keseluruhan film yang menariknya justru menambah warna dari film ini sendiri turut hadir melengkapi cantiknya film ini.
Di satu sisi, Yandy seolah sedang pamer dengan skill storytellingnya. Seperti yang di awal saya ceritakan, saya mengagumi cara berceritanya di berbagai karyanya. Ketika film ini keluar dengan premisnya, "seorang penulis skernario yang mencoba menyatakan cintanya kepada pujaan hatinya yang baru menjanda dengan sebuah film bikinannya" yang muncul di dalam benak saya adalah film ini memiliki premis yang tidak lebih nyeleneh dari karya-karya orisinil Yandy sebelumnya, bila dibandingkan dengan "seorang istri yang datang dari masa depan mendatangi suaminya", "pasangan yang mencoba putus dalam tiga episode setelah 8 tahun berhubungan karena alasan tidak cinta", atau "dua orang yang tertukar jiwanya saat liburan ke luar negeri". Hal ini yang mampu membuat saya penasaran untuk menonton film ini, untuk melihat kejutan-kejutan seperti apa yang disiapkan sang sutradara dengan premis yang relatif "normal". Terbukti, Yandy bercerita di film "sederhananya" ini dengan begitu liar, ia mempermainkan empati dan kepercayaan penonton pada setiap karakter dan plot di filmnya dengan begitu baik. Ia tak hanya mengajak penonton mendalami plot ceritanya, namun juga mengajak penonton berjalan-jalan, berandai-andai, bahkan diberi pelajaran tanpa sedikitpun membiarkan penontonnya keluar dari perjalanan cerita dari 8 sequencesnya. Yandy bahkan seolah menggabungkan cara berceritanya di berbagai karyanya yang lain untuk kemudian dirayakan di suatu film berdurasi 118 menit ini.
Film ini sukses membuat resensi ini seolah iklan dan promosi untuk mengajak pembaca tulisan ini untuk menonton. Bisa juga kemudian diterjemahkan sebagai tulisan fanboying atau pengkultusan terhadap seorang sutradara. Namun, dengan segala keamatiran dan minimnya pengalaman saya, saya yakin dan berani menjamin bahwa film ini tak akan pernah mengecewakan setiap yang terpikat padanya dan layak menjadi satu dari film terbaik sepanjang masa di republik ini.


Komentar
Posting Komentar