Saya mengetik kalimat demi kalimat di dalam tulisan ini dengan perasaan yang begitu penuh dan beragam. Rasa yang tak hanya dirasakan sukma secara emosional namun begitu nyata bereaksi pada ketubuhan saya. Ada kemarahan yang tak pernah saya rasakan sebelumnya, yang membuat tangan mengepal tiada henti. Ada perasaan takut yang menyelinap masuk pori-pori yang membuat saya tak bisa duduk dengan cukup tenang. Ada perasaan terluka yang membuat paru-paru saya seolah menghirup udara sekaligus logam-logam tak kasat mata.
Saya menyadari rasa ini akan menjadi normal yang baru ketika saya mendengar nama Andrie Yunus. Setahun lalu, ulahnya mendobrak Fairmont membuat saya menulis begitu panjang mengenai amarah-- hari ini, jeritnya, lukanya, dan keberaniannya mewakili perasaan saya dan seharusnya semua warga sipil di republik ini. Saya bukan orang yang cukup sering bersinggungan dengannya-- interaksi saya sebatas bertegur sapa ketika menghadiri Kamisan atau rapat-rapat koalisi masyarakat sipil-- dan kami mutualan Instagram. Tetapi di luar ruang-ruang canggung itu saya mengagumi betul sosoknya yang intimidatif dengan perawakan tinggi besar itu; bagaimana tajamnya ia berbicara mengenai topik-topik militerisme, effortnya mondar-mandir lobby hotel mewah, pengadilan negeri, Mahkamah Konstitusi, lalu kantor demi kantor dengan motornya yang masih tegap ia kendarai ketika air keras melekat di kulitnya.
Saya tak habis pikir ada orang dan/atau sekelompok orang yang mampu berpikir untuk melukai orang seperti Mas Andrie, begitu saya memanggilnya-- dengan tindakan yang bahkan tak saya harapkan terjadi pada musuh terburuk saya pun. Cara itu menurut saya tak hanya jahat, tapi juga pengecut, dan hina. Cara-cara itu juga membawa terang pada tindakan-tindakan pengecut negara lainnya yang juga menimpa ratusan orang-orang muda, termasuk beberapa kawan saya, seperti Delpedro dan Bacin (Muzzafar) lewat kriminalisasi pasca demonstrasi Agustus 2025 lalu.
Cara-cara tersebut juga sebetulnya bukan cara-cara baru yang kita lihat hari ini saja, namun kutukan yang harus kita hadapi karena bangsa ini menolak belajar dari sejarah. Kutukan tersebut secara nyata mengetuk pintu-pintu orang muda dan akan terus merangsek semakin dekat yang perlahan tapi pasti menodong kepala kita.
Di tengah teror ini, saya berpikir bahwa saya kecil dulu pasti senang ketika tahu bahwa saya sendiri pada akhirnya mengalami gejala-gejala sejarah dan membuktikan keberulangan sejarah yang dulu hanya saya baca dan hafalkan di buku untuk mendapat ponten yang baik dari guru. Saya yang kecil dulu pasti akan berkali-kali ngomong "Kan..." ketika tahu inilah yang terjadi ketika impunitas dibiarkan dan menggerogoti kekuasaan. Saya yang kecil dulu akan lega ketika tahu keputusannya untuk menolak mentah-mentah paksaan orang tua menjadi aparat adalah keputusan terbaik yang saya lakukan untuk menghindari dosa jariyah membunuh, memperkosa, dan mencuri rakyat. Saya kecil akan bersepakat dan tersenyum usil ketika saya berhasil membuktikan bahwa negara lewat polisi dan tentara adalah entitas paling durhaka terhadap rakyat sipil yang merawat dan melahirkannya.
Presiden, Prabowo Subianto adalah produk terbaik atas proyek penciptaan entitas pengecut dan durhaka tersebut. Pada konteks saat ini misalnya, telunjuknya menuding masyarakat kritis dengan "antek asing" yang kemudian berbuntut pada penyerangan Mas Andrie adalah tindakan paling bodoh, apabila tidak bisa dibilang tolol-- yang bisa dilakukan oleh seorang pemimpin negara. Anggapan dirinya dan golongannya adalah golongan paling patriot adalah bukti bahwa sejak dalam pikiran, dirinya salah membaca gejala hari ini dan sejarah. Prabowo yang merupakan produk militer seharusnya sadar bahwa republik ini berdiri bukan karena kita negara pemenang perang, tetapi karena kesadaran dan perjuangan kolektif seluruh elemen rakyat mengusir kolonialisme. Prabowo mungkin luput atas ingatan bahwa institusi yang membesarkan namanya adalah institusi durhaka yang mengeksekusi penggagas militerisme nasional-- yang merupakan seorang sipil di kaki gunung Wilis. Dengan itu saja, seharusnya Prabowo dan tentara sadar bahwa seragam dan senjata tak membuatnya bebas melakukan penculikan aktivis, pembunuhan di luar hukum, merampas dan mencuri kepunyaan rakyat, ataupun meneror jurnalis dan pembela HAM. Senjata dan seragam justru adalah beban yang harus menyadarkan setiap prajurit bahwa mereka seharusnya tunduk pada sepatu-sepatu sipil, bangunan-bangunan akademis, dan prinsip-prinsip kewargaan yang setiap keringatnya membeli setiap yang mereka kenakan. Dan saya tak perlu menyebut konteks masa lalu Prabowo sebagai produk terbaik entitas paling pengecut dan durhaka karena pada dasarnya material yang sama adalah material yang menciptakan bangunan militer dan kepolisiannya hari ini.
Teror terhadap KontraS dan Mas Andrie adalah puncak dari sekian banyak peristiwa yang dengan sendirinya membuktikan dan menjustifikasi premis yang saya sebutkan di atas. Hari ini kita sadar tidak ada satu pun tatanan kekuasaan yang sekalipun kita pilih yang peduli, melindungi, dan mendengarkan kita. Hari ini kita sadar obsesi rezim untuk merebut panggung global adalah fantasi yang tak lebih tinggi derajatnya dari gejala reproduksi remaja akil balig ketika negara tidak hanya diam atas praktik kolonialisme di Palestina, Sudan, Ukraina, maupun Papua, namun justru membawa nuansa kolonialisme tersebut untuk meneror rakyat sendiri.
Dan hari ini setidaknya saya sadar teror terhadap Mas Andrie dan KontraS tidak hanya membawa saya pada reaksi emosional dan fisik namun juga pengingat saya untuk terus bergerak. Rasa amarah yang menggerakan kepalan tangan itu seharusnya menjadi pertanda untuk kita senantiasa mengangkatnya lebih tinggi lagi, rasa takut yang membuat duduk tak nyaman itu adalah pertanda bahwa saya tidak bisa hanya diam, dan luka yang turut saya rasakan ketika menghela napas itu adalah pengingat bahwa solidaritas adalah satu-satunya alat yang mampu mengembuskan keberanian.
Saya setidak-tidaknya bisa bersaksi bahwa apa yang terjadi pada Mas Andrie akhirnya gagal membawa saya pada kelam ketakutan. Saya bersaksi air keras tak membuat saya cemas. Dan saya berksaksi saya justru jadi semakin berani
karena Andrie.
Komentar
Posting Komentar