Kamu bukan kucing pertama yang aku namain Cemong. Cemong sepemahamanku berarti noda di muka-- yang mana motif warnamu yang belang-belang bikin aku kasih nama itu lagi, Ce buat kamu. Tapi kamu Cemong pertama yang kalau ku pendekin namanya, ku panggil Ce'-- yang lain biasanya "Mong atau Emong". Kamu juga Cemong paling lama yang singgah di rumah. Biasanya anak-anak kucing kayak kamu netap paling lama 2-3 bulan, ibumu suka galak ngusir anak-anaknya, tapi kamu di rumah hampir 6-7 bulan ke belakang. Kamu pun gak pernah jalan jauh-jauh dari garasi dan jalanan depan rumah. Sadar kali ya kamu, kamu tinggal di negara yang hancur lebur, jadi memang tempat yang aman ya di rumah aja, toh dunia kucing gak perlu bayar pajak, kan.
Aku panggil kamu "Ce" juga sebenarnya baru-baru ini kan, Cemong. Gara-gara aku nonton SORE dan selalu dengar Yandy Laurens manggil Sheila Dara, Sye waktu promo filmnya, makanya aku panggil kamu itu. Lucu aja di aku manggil kamu gitu-- dan kamu kucing cantik, Ce. Setara lah sama Sheila Dara kalau di dunia kucing. Lebih lucu dan cantik dari kucing-kucing di sosmed itu. Apalagi kalau dibandingin sama si Bobby-Bobby itu. Jauh lah, Ce. Cantikkan kamu kemana-mana-- plus kamu gak perlu hidup ngerepotin dengan pakai fasilitas negara buat jalan kemana-mana, kan.
Tapi, mungkin kalau aku bisa provide kamu segitunya kamu masih ada kali ya, Ce?
Maaf ya, Ce. Kamu gak lahir di lingkungan yang segitunya. Aku gak bisa seberkuasa itu sampai bisa jadi penjahat HAM dan masih tetap bisa kepilih jadi presiden. Kamu juga bukan peliharaan ku satu-satunya. Ya. kamu tahu kan di atas ada 12 krucil juga. Maaf ya, Ce. Aku sebenarnya pengen juga kamu masuk ke dalam rumah tapi kamu juga sungkan (lebih ke takut kali ya) dan kalah suara kalau dibandingin bocil-bocil itu.
Kebanyakan ngelihat tingkah anjing juga kali ya, yang bikin kamu gak kayak kucing pada umumnya? Aneh kamu, Ce. Kucing itu seharusnya enggak nyambut babu manusianya kalau dia pulang. Peduli, clingy dan juga demen banget main. Gak ada di jobdesk kamu sebagai kucing itu semua.
Tapi terima kasih ya, Ce. Sudah demen banget tidur di paha aku, ngajakin main gigit-gigitan (ini juga aneh, kucing mana yang demen gigit, Ce?), atau nemenin aku kalau lagi kekunci di luar gak bisa masuk rumah, nunggu dibukain pintu. Beberapa bulan lalu sehabis aku minum-minum karena galau akibat cinta-cintaan, kamu di sana, Ce. Tengah malam, aku masih nungguin mamaku ngangkat telepon dan bukain pintu. Aku ngajakin kamu ngomong kayak kamu manusia dan kamu masang muka sotoy kayak mengerti. Juga, waktu aku habis nonton Elephant Kind, kamu tahu aku hepi betul kan, Ce-- dan kamu tahu juga aku bisa jauh lebih hepi lagi. Aku juga harusnya unggah tulisanku soal Elephant Kind yang sok keminggris itu, tapi setelah kamu gak ada, aku gak mood ngapa-ngapain. Kayaknya aku akan selalu gagap kalau menghadapi duka. Kamu pun sebenarnya gak di sampingku setiap saat kayak Hoki atau Cita atau Hiro yang bahkan tidurnya bareng aku, Ce. Tapi kamu tetap ada terus, Ce seolah mastiin aku gak ngerasa hampa-hampa banget.
Hari kamu meninggal itu hari yang menyebalkan, Ce. Kabar buruk datang dari segala penjuru. Negara yang dipimpin babunya Bobby-Bobby itu jelas menyumbang salah satunya. Cinta-cintaan ku jangan ditanya-- semakin membingungkan, mungkin aku sudah terasa semakin memuakkan. Apalagi, Man United yang masih gak bisa ngasih aku sedikit hiburan. Tapi hari itu aku pulang kerja, kamu masih nyambut aku kegirangan. Lalu aku naik ke kamar. Tiba-tiba mamaku teriak, padahal seingatku dia lagi beliin makanan buatku dan buatmu (12 bocil lain sudah makan).
Waktu aku nyamperin sumber suara, kamu sudah di bentuk yang gak aku kenali, Ce. Kamu itu kucing sehat. Suka aku omelin kalau lompat-lompat di tangga-- tapi waktu itu bulu-bulumu sudah kotor sama darah. Napasmu sudah megap-megap. Matamu yang baru sembuh lukanya sudah merah semua. Gak sempat aku mencerna kesedihan, aku dikendalikan amarah-- memburu siapa yang bikin kamu kayak gini.
Tapi gak ada gunanya, Ce. Kamu gak akan hidup lagi.
Sekali lagi, Ce. Kamu kucing sehat. Cemong terdahulu tutup usia karena kena FIP. Tapi kamu gak sakit sama sekali. Pagi hari kamu meninggal, kamu masih cemberut gara-gara kebangun suara motorku. Sorenya masih lompat kegirangan samperin aku. Mungkin nama Cemong yang terkutuk kali ya, Ce. Maaf, ya. Kalau aku tahu, gak akan aku kasih kamu nama itu.
Sedih sekali aku bangun pagi ini, Ce. Masih ada makanan yang sengaja kita simpan buat kamu. Aku masih nunggu suara manja kamu kalau pagi-pagi sehabis ngulet di dekat motorku.
Di CCTV terlihat jelas bagaimana kamu pergi. Dari nunggu mama ke Indomaret yang jaraknya cuman sekali kepleset dari rumah-- sampai mobil itu datang dan menjejak kepalamu. Lalu kamu lompat kesakitan, ibumu tumben ada di dekatmu-- kebingungan. Maaf ya, Ce. Seharusnya aku ikut ke bawah waktu mamaku pergi ke Indomaret kali, ya. Tapi aku malah ngikutin kegamanganku sendiri. Payah aku, Ce. Kamu didiemin tergeletak gitu aja di jalan, bikin mamaku nangis sesenggukan. Lalu kami ambil kain putih untuk kubur kamu secara proper. Ibumu juga-- kayak mengerti, nungguin dan ngelihatin kamu. Sampai selesai.
Sayang aku sama kamu, Ce. Walaupun aku masih ada 12 anjingku yang lain. Walaupun nanti barangkali ibumu bawa anak kucing yang lain. Walaupun belum bisa ngajak kamu tidur di kamarku. Maaf kalau kamu gak mau juga aku begini-- tapi izinin aku berduka sejenak tentang kamu. Sebab gak penting terlihat atau tidak, tapi kepergianmu mengambil sebagian dariku dan aku mau kamu bawa itu. Maaf aku gak becus jagain kamu ya, anak cakep.
Sampai ketemu lagi di bentuk yang lain, di dunia yang lain, di takdir yang lain, sayangnya aku!
Komentar
Posting Komentar