Langsung ke konten utama

Kepalang Buntung, Anggaran Pariwisata

Selamat Datang Covid-19 ke Indonesia. Mungkin itu benak pemerintah pusat kita setelah 6 Maret 2020 kemarin, Presiden kita yang sederhana, cerdas, berwibawa, dan pokoknya kerja, kerja,kerja ini mengumumkan 2 orang Indonesia pertama yang terkena paparan covid-19.

Terus terang, saya takut. Namun dengan sikap pemerintah yang seolah malah menantang pandemik ini, dengan mengglorifikasi kesehatan masyarakat Indonesia, tentunya dengan aktor utama, Menkes Terawan dengan segudang statement ajaibnya membuat saya ingin tertawa miris.

Sikap acuh pemerintah yang bahkan menentang prediksi beberapa ilmuwan tentang adanya virus ini di bumi nusantara, tidak henti-hentinya mengundang gelak tawa di benak saya. Bagaimana tidak? Bahkan pemerintah kita sempat menganggarkan puluhan miliar rupiah untuk memboyong turis-turis asing di tengah pandemik ini. Alasannya sederhana, pemerintah kita merasa kita, masyarakat Indonesia, sudah kebal dengan paparan virus covid-19 dan tidak akan ada kasus covid-19 di negeri tercinta kita ini karena mungkin mereka berpikir kita semua punya ilmu debus atau kita sudah punya terlalu banyak penolak bala. Dan saya pikir, bahkan kalau punya ilmu debus pun, saat kita memakan beling yang sudah terpapar infeksi virus covid-19, kita tetap mati karena paparan virusnya.

Dan disinilah kita, menikmati keteledoran pemerintah kita dengan ketakutan, tidak tahu mereka. Tapi mungkin beberapa influencer sedang berleha-leha dengan netflix dan setumpukan uang dari uang pajak kita sambil memakan es krim viennetta di sofa dari uang adsensenya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Lima adalah Kemenangan Terakhir sebab Negara Kita Pengecut dan Durhaka

Saya mengetik kalimat demi kalimat di dalam tulisan ini dengan perasaan yang begitu penuh dan beragam. Rasa yang tak hanya dirasakan sukma secara emosional namun begitu nyata bereaksi pada ketubuhan saya. Ada kemarahan yang tak pernah saya rasakan sebelumnya, yang membuat tangan mengepal tiada henti. Ada perasaan takut yang menyelinap masuk pori-pori yang membuat saya tak bisa duduk dengan cukup tenang. Ada perasaan terluka yang membuat paru-paru saya seolah menghirup udara sekaligus logam-logam tak kasat mata.  Saya menyadari rasa ini akan menjadi normal yang baru ketika saya mendengar nama Andrie Yunus. Setahun lalu, ulahnya mendobrak Fairmont membuat saya menulis begitu panjang mengenai amarah-- hari ini, jeritnya, lukanya, dan keberaniannya mewakili perasaan saya dan seharusnya semua warga sipil di republik ini. Saya bukan orang yang cukup sering bersinggungan dengannya-- interaksi saya sebatas bertegur sapa ketika menghadiri Kamisan atau rapat-rapat koalisi masyarakat sipil-- ...

Cemong

Kamu bukan kucing pertama yang aku namain Cemong. Cemong sepemahamanku berarti noda di muka-- yang mana motif warnamu yang belang-belang bikin aku kasih nama itu lagi, Ce buat kamu. Tapi kamu Cemong pertama yang kalau ku pendekin namanya, ku panggil Ce' -- yang lain biasanya " Mong atau Emong ". Kamu juga Cemong paling lama yang singgah di rumah. Biasanya anak-anak kucing kayak kamu netap paling lama 2-3 bulan, ibumu suka galak ngusir anak-anaknya, tapi kamu di rumah hampir 6-7 bulan ke belakang. Kamu pun gak pernah jalan jauh-jauh dari garasi dan jalanan depan rumah. Sadar kali ya kamu, kamu tinggal di negara yang hancur lebur, jadi memang tempat yang aman ya di rumah aja, toh dunia kucing gak perlu bayar pajak, kan.  Aku panggil kamu "Ce "  juga sebenarnya baru-baru ini kan, Cemong . Gara-gara aku nonton SORE dan selalu dengar Yandy Laurens manggil Sheila Dara, Sye waktu promo filmnya, makanya aku panggil kamu itu . Lucu aja di aku manggil kamu gitu-- dan kamu...

Cinta Pertama dan Terakhir

Apa yang akan kamu lakukan ketika cinta pertamamu datang kembali ke hidupmu?  Perasaan seperti apa yang akan hadir pertama menyelimutimu? Pikiran macam apa yang akan pertama kali muncul di dalam kepalamu? Apa ekspektasi yang kemudian tak akan terhindarkan muncul? Kira-kira pikiran dan pertanyaan semacam itu yang muncul di dalam benak saya, ketika pertama kali tahu bahwa SORE: Istri dari Masa Depan, sebuah webseries karya filmmaker yang saya kultus habis-habisan, Yandy Laurens (bisa dilihat di review saya di karyanya yang lain, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film) diumumkan akan dibawa ke layar lebar. Karya Yandy tersebut, memang seperti cinta pertama bagi saya. SORE bahkan technically membantu saya menemukan cinta pertama saya ketika duduk di bangku SMA-- ketika suatu waktu saya dapat "meracuninya" untuk maraton webseries ini-- yang membuatnya kemudian memilih beberapa lagu Adhitia Sofyan menjadi yang terfavorit baginya, selayaknya saya yang dipilihnya sebagai manusia favoritny...