Hari ini saya meledak di Twitter. Platform yang saya gunakan untuk shitposting, kurasi meme, dan menonton video-video aneh dari seluruh dunia itu berubah menjadi saksi betapa pahitnya kepala saya dalam menghadapi situasi saat ini. Semua berawal dari sebuah unggahan yang menunjukan pemilik warkop yang ditertibkan dengan kekerasan di Gowa, jauh di Sulawesi sana oleh aparat yang sekiranya berwenang. Salah satu korban bahkan adalah seorang wanita yang tengah mengandung 9 bulan. Benar memang mungkin sang pemilik salah karena tidak mematuhi karantina wilayah, namun bukankah yang bersangkutan juga memikirkan biaya kelahiran anaknya? Bukankah sebagai manusia seharusnya kita mengerti untuk melakukan semua ini dengan pendekatan-pendekatan manusiawi? Saya meluluhlantakan kemarahan saya atas kejadian itu dan situasi saat ini. Lalu kemarahan itu membawa saya ke dalam paragraf yang Anda baca sampai saat ini.
Telah lebih dari satu tahun kita mengalami situasi ini. Terakhir kali situasi normal, saya masih duduk di bangku SMA. Menunggu Ujian Sekolah Fisika yang materinya sendiri tak ada sedikitpun yang saya bisa. Kini, saya sebentar lagi menginjak semester 3 kuliah saya. Adik bungsu saya sudah kelas 6 saja. Anjing saya sudah berusia 7 bulan. Dan saya sudah ditinggal pacar saya jauh ke Amerika. Melajanglah saya kini, tapi pandemi belum juga pergi. Bahkan Lockdown (sebut saja begitu karena namanya ganti-ganti mulu) cenderung direstart ke setelan pabriknya.
Varian virus laknat ini bermutasi melebihi rasa-rasa Indomie. Membunuh tak hanya jiwa manusia namun sekaligus dayanya untuk bertahan hidup. Sedangkan para penguasa sepertinya tak berencana untuk libur mengeluarkan kebijakan dan pernyataan kontroversial. Lebih dari 60.000 orang Indonesia meninggal setidaknya bila dilansir dari data hari ini. Saya tak tahu, mungkin terakhir kali orang Indonesia meninggal sebanyak itu adalah ketika Orde Baru menumpas PKI. Namun, para penguasa negeri ini masih percaya bahwa ini semua terkendali. Sehingga tak heran mereka masih terpikir untuk mengeluarkan vaksin berbayar ketika harga tabung oksigen meninggi, pemakaman semakin penuh, dan fasilitas kesehatan berada di ambang batasnya.
Lalu saya melihat kembali situasinya dari sudut pandang yang kiranya berbeda. Ada dokter yang berkelahi satu sama lain di Youtube, Teori Konspirasi semakin ramai digemari, artis dan anak konglomerat terpapar narkoba, hingga anak menteri yang honeymoon di luar negeri. Sementara rekan-rekan saya mulai Instastory kebutuhan mendesak untuk terus bertahan. Tabung oksigen, donor plasma darah, obat-obatan, hingga bantuan dana untuk setiap yang kesulitan. Di luar, sirine ambulans tak henti bernyanyian dan kabar duka terus berguguran.
Saya berpikir kembali mengapa realita tak seindah narasi di Cokro TV yang Ayah saya sering tonton itu. Di tengah keadaan yang mengubah kabar kematian menjadi keseharian ini pemerintah masih tidak menjalankan UU Kekarantinaan yang mereka rumuskan dan tanda tangani sendiri. Dibanding melakukan penanganan, para penguasa ini lebih terlihat membuat pilihan kepada masyarakatnya untuk mati karena pandemi atau mati karena stok makanan dan uang di rumah sudah tak ada lagi.
Bagaimana tidak?
Kita memiliki banyak kesempatan untuk mencegah semua ini terjadi tapi malah memilih untuk percaya mulut Terawan. Tak hanya itu, kita juga memilih percaya bahwa kita kebal karena makan nasi kucing. Atau lebih konyol lagi, kita bergurau virus itu tak mau masuk karena perijinan yang berbelit-belit.
Kita memiliki bantuan sosial kepada mereka yang tak mampu, namun pada akhirnya dikorupsi. Mengganti menteri, namun ternyata menteri tersebut mengeluarkan pernyataan yang cenderung "rasis". Lalu bila dilihat dari penegakan hukum dan penyelesaian kasus-kasus korupsi tersebut, justru seolah diarahkan ke arah yang tidak jelas ketika lembaga yang bertanggungjawab atas kasus-kasus tersebut digembosi.
Kesempatan untuk setidaknya tidak memperparah pandemi atau mencegah varian baru masuk juga tidak dijalankan. Ketika kita tidak menutup kedatangan internasional dari India saat di sana tengah marak varian Delta. Dalihnya tentu saja ekonomi. Sebuah alasan yang sama yang membuat masyarakat kita sulit untuk menjalankan karantina demi karantina ini. Nahasnya, tak ada jaminan ketika ini semua selesai kita bisa hidup sejahtera ketika badai PHK semakin jelas di depan mata. Persaingan kerja akan semakin ketat ditambah masuknya pekerja-pekerja asing yang kabarnya bahkan masih masuk ketika kita semua sedang bersusah payah diam di rumah. Sementara yang kerja, hak-haknya dipangkas oleh UU bernama Cipta Kerja. Ingin memanfaatkan pariwisata atau kekayaan alam? Bersiaplah untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan tambang besar yang mendapat izin dari UU Minerba. Ingin merasakan kebebasan di hidup Anda? Ingat juga kita punya UU ITE atau RKUHP yang akan dikebut pembahasannya itu. Paling penting, jangan sekonyong-konyongnya untuk membuat daerah kelahiran Anda merdeka. Berkacalah dengan apa yang terjadi di Papua.
Tersenyumlah karena pada dasarnya kita semua ada di posisi ini semata-mata karena uang, ekonomi, dan kepentingan-kepentingan yang tak jelas juntrungannya itu. Tak jelas bagaimana kita semua dapat bertahan ketika harapan kita mengakhiri pandemi akan terus diperkecil untuk setidaknya menjaga orang-orang yang kita sayangi dan diri kita sendiri untuk tidak mati. Maka semangatlah menjalani hari, sebab kita masih harus berburu susu beruang yang kian langka itu.
Komentar
Posting Komentar