Lihatlah barisan pemain-pemain yang melakukan selebrasi usai mencetak gol ini. Saya pikir sebelum orang-orang melihat rentetan hasil buruk pasca pertandingan melawan Newcastle ini, semua orang akan percaya bahwa tim ini adalah calon juara terkuat Liga Inggris musim 2021/2022. Namun, setiap orang bisa berencana, tapi takdirlah yang menentukan. Manchester United ternyata hanya juara di bursa transfer. Rentetan hasil buruk ditelan dengan pahit setelah ini. Semua orang mulai mencari kambing hitam. Dimulai dari keberadaan Fred di lini tengah hingga kepantasan Ole Gunnar Solskjaer dalam memimpin tim mewah ini. Fans pun mulai gerah dan frustasi, layaknya keseharian fans-fans Liverpool dan Arsenal sedekade terakhir. Tagar #oleout merebak kemana-mana, kritik juga ditujukan kepada pemain-pemain yang dianggap tidak menunjukan determinasi terhadap logo di jersey merah kebanggaan kota Manchester ini.
Lantas, benarkah ini semua salah Solskjaer?
Saya pikir sangatlah dangkal bila berpikir bahwa prestasi United yang stagnan adalah kesalahan satu-dua pihak. Lagipula, kepemimpinan Solskjaer bukannya tanpa progress. Rekrutmen dan perubahan yang dilakukannya terhadap tim juga tidak bisa dibilang buruk. Dimulai pengorbitan pemain-pemain muda seperti Mason Greenwood hingga perubahannya terhadap manajemen tim seperti perekrutan pelatih set piece adalah beberapa contoh nyata. Jasanya merubah tim yang hampir menjadi tim papan tengah dengan permainan pragmatis ala Jose Mourinho menjadi tim yang mampu kembali bersaing di empat besar Liga Inggris juga tidak seharusnya dipandang sebelah mata. Memang secara taktikal dan pengalaman ia tak bisa dibandingkan dengan pelatih-pelatih fancy macam Jurgen Klopp, Antonio Conte, Pep Guardiola, Roberto Mancini, ataupun Thomas Tuchel. Pun, rentetan hasil buruk yang dialami dengan komposisi skuad yang telah dibangunnya (yang saya pikir adalah komposisi skuad paling mewah United sepeninggalan Sir Alex) juga tak bisa diterima. Mempertimbangkan hal-hal tersebut tentu kita tak bisa begitu saja menunjuk telunjuk kita kepada Solskjaer.
Setidaknya sudah ada lima kepala yang telah bertanggung jawab untuk memimpin United sepeninggalan pelatih legendaris, Sir Alex Ferguson. Dimulai dari The Choosen One, David Moyes, Ryan Giggs, Louis van Gaal, Jose Mourinho, hingga kini Solskjaer. Dari lima pelatih tersebut, tak ada satu pun yang mampu menambah trofi Liga Inggris menjadi 21 di kabinet Setan Merah. Tentu yang menjadi pertanyaan adalah mengapa nama-nama tersebut tidak bisa membawa pulang trofi mentereng pada tim terbesar di Inggris ini.
Mari alihkan pandangan kita ke luar lapangan hijau. Di kepala United, ada keluarga asal Amerika yang belum tentu mengerti sepak bola. Begundal-begundal ini adalah pemilik Man United sejak 2004, The Glazers. Mereka adalah orang yang membeli United dengan uang hutang lalu menjaminkan aset-aset klub atas hutang-hutang tersebut. Inilah yang membuat publik Manchester ingin buang air besar di atas sereal yang mereka makan setiap pagi hari. Gerakan Love United Hate Glazers merebak di seluruh penjuru Manchester. Bahkan berdiri sebuah klub bernama FC United Of Manchester yang bermain di kasta ke tujuh Liga Inggris sebagai bentuk penolakan atas kepemilikan Glazers.
Kepemilikan Glazers ini tak berefek instan. Sir Alex Ferguson yang memang hebat masih bisa mempertahankan gelar dan mental juara tim ini setidaknya hingga 2013. Tentu yang menjadi PR adalah ketika ia meninggalkan klub hingga saat ini. Pemain-pemain United praktis tak bisa menaruh sidik jarinya di trofi perak yang telah mereka menangkan berulang-ulang hingga 20 kali. Ada sesuatu yang hilang dari tim ini. United seolah lebih senang menjual jersey ketimbang menjadi juara. Pemilik pun tak mau ambil pusing. Entitas bisnis sebesar Manchester United adalah sapi perah yang nikmat untuk mereka. Ketika fans marah dan menangis kecewa di Old Trafford, mereka tersenyum melihat deviden jutaan pounds dari klub di rekening mereka.
Sayangnya siklus ini terus berlanjut. Orientasi pemilik yang hanya fokus kepada bisnis itu, membuat United seolah lupa caranya bermain sepak bola. Tentu, sedikit banyak hal ini juga mempengaruhi kepemimpinan Solskjaer, si orang baik dari Norwegia. Inilah mengapa siapapun pelatih United nantinya, sukar mendapatkan dukungan dari board yang mungkin lebih suka bermain golf di siang menjelang petang daripada menonton pertandingan dengan segelas bir dan nyanyian di tribun Old Trafford. Lingkaran setan inilah sebab yang membuat tidak ada jaminan (bila ada) suksesor Solskjaer pun akan sukses di Manchester. Terlebih, gonta-ganti pelatih bukanlah solusi untuk tim sebesar Manchester United. Sebab kita bukan tim baru gede macam Chelsea, Manchester City, ataupun Newcastle United yang melukiskan sejarah mereka dengan uang dari penjualan minyak atau melakukan pelanggaran HAM.
Sepertinya Manchester United adalah setan yang kerasukan hawa-hawa religius di dunia manusia. Mereka kehilangan cara untuk menjebloskan atau menggoda manusia. Namun, suatu saat ketika mereka tahu caranya kembali ke neraka, orang-orang akan tahu bahwa surga yang penuh kebaikan tidak sebegitu indahnya.
Komentar
Posting Komentar