Disney kembali merilis film dalam rangkaian seri superhero andalan mereka, Marvel Cinematic Universe. Kali ini mereka bekerja sama dengan Sony Pictures untuk menggarap film Spider-Man terbaru bertajuk, Spider-Man: No Way Home. Film ini telah mencuri banyak perhatian bahkan bertahun-tahun sebelum akhirnya dirilis. Perhatian publik sebetulnya telah tercium pada post-credit scene film terdahulunya, Spider-Man: Far From Home yang menunjukan karakter J. Jonah Jameson dari Daily Bugle yang diperankan oleh pemeran yang sama dalam film Spiderman klasik garapan Sam Raimi, J.K. Simmons. Setelah itu, ramailah teori penggemar yang menghubungkan kemungkinan reuni 3 Spider-Man dengan gimmick multiverse dalam film ini. Terlebih konsep serupa sebetulnya telah dilakukan Sony pada tahun 2018 silam dalam film animasi pemenang Oscar, Spider-Man: Into The Spiderverse.
Dengan antusiasme dan hype yang luar biasa dari para penggemar, tentu ada harapan lebih pada film Spider-Man garapan John Watts ini. Terlebih konsep multiverse dalam film animasi yang digarap oleh rumah produksi yang sama bisa menyajikan pengalaman menonton yang menjanjikan. Sudah sewajarnya, penonton punya ekspektasi yang tinggi dan menantikan "kejutan" yang akan diberikan oleh film ini.
Premis utama film ini adalah kesempatan kedua. Hampir segala aspek dalam film ini praktis disematkan premis tersebut. Mulai dari pengembangan karakter, eskalasi konflik, hingga pemilihan aktor yang seolah memberikan kesempatan kedua untuk memerankan manusia setengah laba-laba ini. Premis ini berjalan cukup baik dan masuk akal terlebih dengan desain karakter naif Peter Parker ala Tom Holland di MCU. Motivasi karakter Peter ala Holland yang terkesan kekanakan juga mampu diselesaikan dengan resolusi yang cukup dewasa. Karakter-karakter yang dibawa dari film terdahulu juga mampu membawa setiap penontonnya tersenyum ataupun merasa tua. Sebuah film yang mampu membawa siapa saja ke dalam masa lalunya lewat mesin waktu bernama nostalgia. Penyisipan easter egg juga terkesan rapi dan tak memaksa.
Pada akhirnya film ini dibunuh oleh keramaian yang dibuatnya sendiri. Ekspektasi yang tinggi tak mampu dibuktikan dengan penuturan yang mumpuni. Alih-alih menjadi film superhero yang menyegarkan dan inovatif, film ini seolah hanya menjadi wadah pemenuh dahaga penggemar dan pelengkap bagi fase MCU berikutnya.
Komentar
Posting Komentar