Langsung ke konten utama

Football Manager adalah Gim yang Digunakan Dajjal di Akhir Zaman untuk Merekrut Pengikutnya

 

Anda tentu masih ingat bila melihat bintang Perancis, Antoine Griezmann bergurau dengan rekan setimnya, Kylian Mbappe ketika ia mentransfer rekan setimnya tersebut ke Newcastle United di sebuah gim simulasi sepak bola. Bagi sebagian orang mungkin itu hal biasa atau mungkin sebagian besar tidak mengerti. Namun, bagi orang-orang yang dipilih Dajjal seperti Griezmann, itu adalah sebuah peristiwa yang  komikal. 

Ketika industri gim saat ini berlomba-lomba mempertontonkan grafis indah  dengan teknologi tinggi atau sistem gatcha yang membuat orang rela membakar uangnya, SEGA konsisten selama puluhan tahun merilis gim simulasi manager sepak bolanya yang bila kita bandingkan secara teknologi grafis tentu tertinggal jauh dengan apa yang dapat disuguhkan gim sepak bola lainnya seperti EA lewat franchise Fifanya atau Konami dengan PES atau E-Footballnya. Lantas, bila orang lain sibuk membakar uangnya di Fifa Ultimate Team atau membeli bola-bola hitam di PES mengapa saya bisa terjebak selama ratusan jam dengan gim rilisan SEGA yang secara kasat mata minim inovasi ini?

Football Manager telah bersentuhan dengan saya semenjak saya duduk di bangku SMP. Sebetulnya saya sudah bersentuhan dengan gim-gim macam ini semenjak duduk di bangku SD lewat gim-gim yang ada di Facebook. Namun, ada hal yang mengganggu saya ketika gim serupa yang saya mainkan secara gratis berharga sama dengan gim sekelas PES atau Fifa. Tentu itu membangkitkan rasa penasaran saya dan membuat saya akhirnya mencobanya, yang dimana saya tak tahu bahwa rasa penasaran itu ternyata membuat saya menyerahkan jiwa saya kepada setan. Football Manager sukses membuat saya melupakan orientasi waktu. FM 2016 sebagai FM pertama sukses menghabiskan ribuan jam saya saat itu. Dan saya tidak bisa mengentikannya.

Di tengah aspek visual yang biasa saja, FM dapat menyajikan sesuatu yang tak ditawarkan gim sepak bola lainnya. Data yang akurat dan detail juga game engine sederhana yang entah bagaimana sangat cukup mengkomodasi kompleksitas gim ini sehingga menciptakan gameplay yang adiktif. Realistis adalah kata yang tepat untuk menggambarkan gim ini dan merupakan daya tarik utamanya. Hal lainnya adalah fleksibilitas, dengan data yang akurat dan detail tadi, Anda akan diberikan kebebasan untuk memimpin klub manapun yang Anda inginkan. Anda bisa memimpin klub terbaik di dunia seperti Manchester United, tim segudang potensi seperti Ajax atau Dortmund, tim kaya seperti PSG, Chelsea, Manchester City, dan Newcastle United, hingga tim antah berantah dari divisi-divisi kedua atau ketiga di eropa, bahkan tim kasta dunia ketiga yang ada di Vanarama National League.

Semenjak pertemuan pertama saya di tahun 2015 dengan gim ini, saya masih konsisten terjebak untuk menjual diri saya dengan setan hingga setidaknya hari kedua di tahun 2022 ini. Persistensi SEGA untuk terus merilis gim yang marketnya tentu tak seluas dan tak semenguntungkan Fifa atau PES ini sangat mengagumkan bagi saya (walaupun saya masih yakin gim ini memang propaganda pengikut Dajjal). FM adalah cerminan idealisme di industri gim yang dilukiskan dengan sempurna. Bahwa tak perlu grafis indah dengan teknologi 3D yang megah untuk meraup simpati pemain, apalagi membuat sistem semi-judi yang terus memantik setiap pemainnya untuk terus membakar uangnya dalam menikmati sebuah gim. Walaupun, memang orang awam akan mencemooh saya dengan, "halah, masa gim gituan 500 rebu?" atau "yailah, gim lu serius amat," saya sudah cukup senang ketika masih sedikit orang yang bisa merasakan kebahagiaan saat wonderkid andalannya yang ditempa sedemikian rupa di gim ini, ternyata memang hebat betulan di dunia nyata. Buat Antoine Griezmann, I feel you, monsiuer. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Lima adalah Kemenangan Terakhir sebab Negara Kita Pengecut dan Durhaka

Saya mengetik kalimat demi kalimat di dalam tulisan ini dengan perasaan yang begitu penuh dan beragam. Rasa yang tak hanya dirasakan sukma secara emosional namun begitu nyata bereaksi pada ketubuhan saya. Ada kemarahan yang tak pernah saya rasakan sebelumnya, yang membuat tangan mengepal tiada henti. Ada perasaan takut yang menyelinap masuk pori-pori yang membuat saya tak bisa duduk dengan cukup tenang. Ada perasaan terluka yang membuat paru-paru saya seolah menghirup udara sekaligus logam-logam tak kasat mata.  Saya menyadari rasa ini akan menjadi normal yang baru ketika saya mendengar nama Andrie Yunus. Setahun lalu, ulahnya mendobrak Fairmont membuat saya menulis begitu panjang mengenai amarah-- hari ini, jeritnya, lukanya, dan keberaniannya mewakili perasaan saya dan seharusnya semua warga sipil di republik ini. Saya bukan orang yang cukup sering bersinggungan dengannya-- interaksi saya sebatas bertegur sapa ketika menghadiri Kamisan atau rapat-rapat koalisi masyarakat sipil-- ...

Cemong

Kamu bukan kucing pertama yang aku namain Cemong. Cemong sepemahamanku berarti noda di muka-- yang mana motif warnamu yang belang-belang bikin aku kasih nama itu lagi, Ce buat kamu. Tapi kamu Cemong pertama yang kalau ku pendekin namanya, ku panggil Ce' -- yang lain biasanya " Mong atau Emong ". Kamu juga Cemong paling lama yang singgah di rumah. Biasanya anak-anak kucing kayak kamu netap paling lama 2-3 bulan, ibumu suka galak ngusir anak-anaknya, tapi kamu di rumah hampir 6-7 bulan ke belakang. Kamu pun gak pernah jalan jauh-jauh dari garasi dan jalanan depan rumah. Sadar kali ya kamu, kamu tinggal di negara yang hancur lebur, jadi memang tempat yang aman ya di rumah aja, toh dunia kucing gak perlu bayar pajak, kan.  Aku panggil kamu "Ce "  juga sebenarnya baru-baru ini kan, Cemong . Gara-gara aku nonton SORE dan selalu dengar Yandy Laurens manggil Sheila Dara, Sye waktu promo filmnya, makanya aku panggil kamu itu . Lucu aja di aku manggil kamu gitu-- dan kamu...

Cinta Pertama dan Terakhir

Apa yang akan kamu lakukan ketika cinta pertamamu datang kembali ke hidupmu?  Perasaan seperti apa yang akan hadir pertama menyelimutimu? Pikiran macam apa yang akan pertama kali muncul di dalam kepalamu? Apa ekspektasi yang kemudian tak akan terhindarkan muncul? Kira-kira pikiran dan pertanyaan semacam itu yang muncul di dalam benak saya, ketika pertama kali tahu bahwa SORE: Istri dari Masa Depan, sebuah webseries karya filmmaker yang saya kultus habis-habisan, Yandy Laurens (bisa dilihat di review saya di karyanya yang lain, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film) diumumkan akan dibawa ke layar lebar. Karya Yandy tersebut, memang seperti cinta pertama bagi saya. SORE bahkan technically membantu saya menemukan cinta pertama saya ketika duduk di bangku SMA-- ketika suatu waktu saya dapat "meracuninya" untuk maraton webseries ini-- yang membuatnya kemudian memilih beberapa lagu Adhitia Sofyan menjadi yang terfavorit baginya, selayaknya saya yang dipilihnya sebagai manusia favoritny...