Ketika industri gim saat ini berlomba-lomba mempertontonkan grafis indah dengan teknologi tinggi atau sistem gatcha yang membuat orang rela membakar uangnya, SEGA konsisten selama puluhan tahun merilis gim simulasi manager sepak bolanya yang bila kita bandingkan secara teknologi grafis tentu tertinggal jauh dengan apa yang dapat disuguhkan gim sepak bola lainnya seperti EA lewat franchise Fifanya atau Konami dengan PES atau E-Footballnya. Lantas, bila orang lain sibuk membakar uangnya di Fifa Ultimate Team atau membeli bola-bola hitam di PES mengapa saya bisa terjebak selama ratusan jam dengan gim rilisan SEGA yang secara kasat mata minim inovasi ini?
Football Manager telah bersentuhan dengan saya semenjak saya duduk di bangku SMP. Sebetulnya saya sudah bersentuhan dengan gim-gim macam ini semenjak duduk di bangku SD lewat gim-gim yang ada di Facebook. Namun, ada hal yang mengganggu saya ketika gim serupa yang saya mainkan secara gratis berharga sama dengan gim sekelas PES atau Fifa. Tentu itu membangkitkan rasa penasaran saya dan membuat saya akhirnya mencobanya, yang dimana saya tak tahu bahwa rasa penasaran itu ternyata membuat saya menyerahkan jiwa saya kepada setan. Football Manager sukses membuat saya melupakan orientasi waktu. FM 2016 sebagai FM pertama sukses menghabiskan ribuan jam saya saat itu. Dan saya tidak bisa mengentikannya.
Di tengah aspek visual yang biasa saja, FM dapat menyajikan sesuatu yang tak ditawarkan gim sepak bola lainnya. Data yang akurat dan detail juga game engine sederhana yang entah bagaimana sangat cukup mengkomodasi kompleksitas gim ini sehingga menciptakan gameplay yang adiktif. Realistis adalah kata yang tepat untuk menggambarkan gim ini dan merupakan daya tarik utamanya. Hal lainnya adalah fleksibilitas, dengan data yang akurat dan detail tadi, Anda akan diberikan kebebasan untuk memimpin klub manapun yang Anda inginkan. Anda bisa memimpin klub terbaik di dunia seperti Manchester United, tim segudang potensi seperti Ajax atau Dortmund, tim kaya seperti PSG, Chelsea, Manchester City, dan Newcastle United, hingga tim antah berantah dari divisi-divisi kedua atau ketiga di eropa, bahkan tim kasta dunia ketiga yang ada di Vanarama National League.
Komentar
Posting Komentar