Indonesia merupakan negara dengan penduduk keempat terbanyak di dunia. 270 juta jiwa menggantungkan hidupnya di sini. Hal ini menempatkan Indonesia sebagai negara terbesar, baik secara wilayah ataupun penduduk se-Asia Tenggara. Sebelum Anda bertanya apa korelasi judul dan paragraf ini, saya akan langsung saja mengutarakan fakta yang dikontamitasi ironi: Tim nasional sepak bola negara besar ini belum pernah menjuarai satu pun kompetisi sepak bola, baik tingkatan konfederasi macam AFF, apalagi kompetisi akbar helatan AFC dan FIFA setaraf piala Asia. Kebanggaan terbesar bagi sepak bola tanah air adalah dua mendali emas Sea Games berusia lebih dari 30 tahun dan dongeng pernah merumput di Piala Dunia pada 1938. Fakta ironis lainnya adalah sepak bola merupakan olahraga paling populer di negara ini. Hal ini seolah menegaskan spesialisasi bangsa ini atas ketidakmampuannya menunjukan kebesarannya.
Lantas, apakah memang sepak bola Indonesia seburuk itu?
Untuk mempermudah perbandingan, mari kita persempit perspektif kita ke Asia Tenggara. Thailand dan Vietnam untuk saat ini menjadi negara "besar" dalam hal sepak bola, walaupun memang kualitasnya belum bisa begitu disandingkan dengan taraf Asia ataupun dunia. Hal yang menarik adalah bahkan bila jumlah penduduk kedua negara tersebut dijumlahkan jumlahnya masih belum bisa menandingi jumlah penduduk Indonesia, bahkan selisihnya masih 100 jutaan jiwa. Dengan jumlah penduduk sebanyak itu, asumsinya Indonesia harusnya mudah merajai kompetisi tingkat konfederasi atau bahkan Asia. Sebagai perbandingan, olahraga paling populer di India, negara berpenduduk terbanyak kedua di dunia adalah kriket dan India merupakan raja kriket dunia. Sedangkan, olahraga terpopuler di Tiongkok sebagai negara berpenduduk terbanyak di dunia adalah basket dan basket Tiongkok merupakan salah satu yang terbaik di Asia bahkan di dunia. Hal ini tentu berbanding terbalik dengan Indonesia dan sepak bolanya. Timnas belum pernah lagi merumput di kompetisi resmi kalender FIFA sejak 2007, bahkan timnas tidak pernah menjuarai kompetisi non-resmi konfederasi macam AFF dan harus puas dengan enam kali menjadi runner up.
Stagnansi prestasi timnas sepak bola Indonesia tentu bukannya dipandang sebelah mata. Sepak bola adalah olahraga yang selalu menjadi pusat perhatian kendatipun nirprestasi. Hal ini dapat dijumpai pada beberapa klub yang operasionalnya bahkan di tanggung APBD, artinya tim sepak bola di setiap daerah dianggap sebagai kebanggaan bagi daerahnya masing-masing. Hal ini tentu jarang kita jumpai pada olahraga-olahraga lain. Bila pun ada, tentu uangnya tidak sebesar di sepak bola yang walau bila diamati lagi mungkin jauh lebih berprestasi.
Dengan keadaan-keadaan ini, kemaraunya prestasi timnas dihadapkan pada tanda tanya. Sebab bila bicara kualitas dan potensi bakat pemain, tentu kita tidak kalah dengan negara-negara lain. Sebut saja nama Kurniawan yang pernah merumput di Italia. Ada juga nama Bambang Pamungkas yang bahkan harum hingga negeri seberang atau Boaz Solossa yang konsisten mencetak gol ke gawang tim-tim di kejuaraan klub se-Asia, AFC Cup.
Lampu sorot sudah sewajarnya mengarah kepada federasi, yaitu PSSI. Dugaan manajemen yang buruk adalah isu rutin yang selalu dihadapi organisasi ini di setiap periode kepemimpinan bahkan setiap tahunnya. Isu macam keterlibatan federasi terhadap praktik-praktik kotor macam match fixing, penyelenggaraan liga yang berantakan, hingga pembinaan pemain yang bermasalah berkutat pada organisasi sepak bola terbesar di tanah air ini. Isu-isu ini pun bukannya barang baru di tubuh federasi. Match fixing atau pengaturan skor misalnya, bahkan sudah terjadi sejak 80an dan diduga skalanya bahkan bukan hanya skala liga, namun merembet ke skala internasional yang melibatkan timnas. Bayangkan saja, 11 pemain yang menggendong harapan jutaan penduduk Indonesia, ternyata sengaja mengalah demi segelontor uang dari tangan mafia atau segelintir kepentingan beberapa orang semata.
Sayangnya, federasi yang disinyalir menjadi biang kebobrokan sepak bola Indonesia ini tidak juga menunjukan gelagat perubahan. Hampir setiap tahun perwakilan federasi diundang di televisi untuk bicara sepak bola dan permasalahannya, hampir setiap tahun pula sepak bola Indonesia bertambah masalahnya. Teranyar, salah satu anggota exco PSSI bercuap fafifu wasweswos di jagat maya dan disambut bahagia oleh jempol para penikmat sepak bola.
PSSI boleh jadi pembunuh jutaan mimpi anak-anak kandung bangsa. Beruntungnya (atau sialnya), saya pernah menjadi bagian dari anak-anak itu. Berjibaku dengan panas, lapangan yang konturnya tidak rata, dan pemain-pemain cabutan yang bahkan bisa dijumpai pada kompetisi di bawah 12 tahun hanya untuk mengubur mimpinya dalam-dalam untuk menjadi atlet sepak bola. PSSI boleh jadi pembunuh euforia suporter yang tak lelah menyanyi di tribun tim-tim kesayangannya. Beberapa di antara mereka bahkan terbunuh atas dasar kecintaan dan fanatisme namun barangkali kekalahan dan kemenangan timnya ada atas kehendak mafia. Selama PSSI tidak berubah, tentu hal ini akan terus terulang. Tak peduli seberapa tajam Najwa Shihab melancarkan tanya, Rochy Putiray mengungkap fakta, atau pengamat sepak bola mengkritisi manajemennya, selama persekutuan jahat ini masih menganggap dirinya federasi, sepak bola Indonesia tidak ada masa depannya.
Komentar
Posting Komentar