Langsung ke konten utama

Pemilu Ditarik-Ulur, Konstitusi Babak Belur

Api wacana amandemen konstitusi dan perpanjangan masa jabatan presiden telah menyala bahkan sebelum presiden menyelesaikan masa jabatan di periode keduanya. Bahkan isu amandemen konstitusi telah santer terdengar di masa transisi antara periode pertama dan kedua Presiden Joko Widodo pada 2019 lalu. Isu yang hangat saat itu adalah kebangkitan garis-garis besar haluan negara atau GBHN yang sebetulnya mandat Soekarno pada suatu pidato yang disebut Manipol USDEK pada penghujung masa pemerintahannya yang kemudian diteruskan sebagai GBHN di era Soeharto sepanjang orde baru. Wacana digawangi oleh partai induk dari Presiden sendiri yang sekaligus partai kepunyaan anak dari Soekarno, Megawati Soekarnoputri, PDI-Perjuangan. Hal ini memantik bermacam reaksi. Wacana GBHN yang dibangkitkan kembali ini menimbulkan kecurigaan akan bangkitnya pula sosok diktator di tubuh pengusaha mebel asal Jawa Tengah ini. Namun, seiring berjalannya waktu wacana ini menguap, serupa elektabilitas Puan Maharani di panggung politik 2024. 

Tak selesai sampai situ,  usul amandemen konstitusi ini kembali santer terdengar pada akhir 2019, tepatnya pada bulan November. Kali ini adalah usulan penambahan masa jabatan presiden. Betul, bahkan usulan penambahan masa jabatan presiden telah santer terdengar bahkan saat presiden dan periode barunya baru genap satu bulan. Usulan kali ini datang dari Nasdem. Saat itu usul dinyatakan oleh Menkominfo saat ini, Johnny G. Plate. Beliau menyatakan usul bahwa masa jabatan presiden perlu diubah entah itu 1x7 tahun, 3x4 tahun, ataupun 3x5 tahun. Usul ini lantas disambar PSI. Partai yang mengaku anak muda banget ini setuju perubahan masa jabatan presiden selama 1x7 tahun. Sebuah kepercayaan diri yang luar biasa, mengingat mereka sebetulnya tak lolos ke Senayan. 

                                            sumber: CNN Indonesia


Isu-isu ini hilang digulung waktu. Usul demi usul ini ditolak oleh presiden. Beliau mengatakan bahwa prosesnya terpilih merupakan produk reformasi dan berjanji setia pada konstitusi. Namun, usul-usul yang kita kira hanyalah pepesan kosong itu, ternyata berlanjut sampai sekarang. 

Awal tahun 2022, partai yang kembali datang dari sisi koalisi mengusulkan penundaan pemilu 2024. Usul ini datang dari PKB langsung dari ketua umumnya, Muhaimin Iskandar. Menariknya umpan ini disundul mantap oleh partai Golkar yang memiliki kursi terbanyak ketiga di parlemen dan langsung diucapkan oleh ketua umumnya yang juga merangkap sebagai Menko Perekonomian, Airlangga Hartanto. Tak hanya menarik Golkar, usul ini juga disambut oleh anak baru koalisi, PAN yang juga diucapkan oleh ketua umumnya, Zulkifli Hasan. Hal menariknya tak hanya sampai situ, PDIP dan Nasdem yang sebelumnya mengembuskan isu amandemen dan perubahan masa jabatan presiden, menolak usulan penundaan pemilu ini.

Kita tentu bisa saja hingga saat ini menganggap bahwa usul-usul tersebut merupakan cara para petinggi partai ini mencoba peruntungannya atau sekadar cek ombak. Namun, melihat gemuknya tubuh koalisi  pemerintahan saat ini, riak-riak ombak itu bisa saja sewaktu-waktu menyapu prinsip-prinsip demokrasi negara ini. Ketidaktentuan sikap dari setiap partai, sulit ditebaknya sikap presiden, dan lemahnya kekuatan oposisi di parlemen sudah semestinya menjadi alarm kebangkitan otoritarianisme di tanah air. Bila dikalkulasi kekuatan 3 partai yang mengusulkan penundaan pemilu ini di parlemen saja misalnya, mereka hanya butuh 50 kursi lagi untuk bisa menjalankan agenda amandemen seperti yang tertuang pada Pasal 37 ayat (1) UUD 1945. Saat ini, kita masih bisa menghela napas lega karena beberapa partai lain di koalisi seperti PDIP, Gerindra, dan Nasdem menolak usul tersebut. Satu-satunya partai dari koalisi yang mendukung usul ini selain 3 partai yang kita bahas sebelumnya adalah anak bawang mereka yang tak memiliki kursi di parlemen dan juga telah disebut di atas.  

Namun, helaan napas itu tak seharusnya selega biasanya mengingat jarak realisasi perombakan konstitusi begitu dekat di depan mata kita. Terlebih, pemerintahan saat ini agaknya lebih memilih untuk memelihara kepentingan-kepentingan elit dibanding memelihara demokrasi. Kusutnya arah pemerintahan dan alpanya pencegahan atas keluarnya isu-isu seperti ini dari mulut penguasa cukup untuk menumbuhkan tanda tanya kepada setiap orang di sisi istana tentang kesetiaan mereka terhadap konstitusi, reformasi, dan demokrasi. Sebab, bukannya tak mungkin janji presiden tentang kesetiaanya terhadap konstitusi berakhir sama seperti janjinya menangani banjir kala menjadi gubernur DKI.  





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Lima adalah Kemenangan Terakhir sebab Negara Kita Pengecut dan Durhaka

Saya mengetik kalimat demi kalimat di dalam tulisan ini dengan perasaan yang begitu penuh dan beragam. Rasa yang tak hanya dirasakan sukma secara emosional namun begitu nyata bereaksi pada ketubuhan saya. Ada kemarahan yang tak pernah saya rasakan sebelumnya, yang membuat tangan mengepal tiada henti. Ada perasaan takut yang menyelinap masuk pori-pori yang membuat saya tak bisa duduk dengan cukup tenang. Ada perasaan terluka yang membuat paru-paru saya seolah menghirup udara sekaligus logam-logam tak kasat mata.  Saya menyadari rasa ini akan menjadi normal yang baru ketika saya mendengar nama Andrie Yunus. Setahun lalu, ulahnya mendobrak Fairmont membuat saya menulis begitu panjang mengenai amarah-- hari ini, jeritnya, lukanya, dan keberaniannya mewakili perasaan saya dan seharusnya semua warga sipil di republik ini. Saya bukan orang yang cukup sering bersinggungan dengannya-- interaksi saya sebatas bertegur sapa ketika menghadiri Kamisan atau rapat-rapat koalisi masyarakat sipil-- ...

Cemong

Kamu bukan kucing pertama yang aku namain Cemong. Cemong sepemahamanku berarti noda di muka-- yang mana motif warnamu yang belang-belang bikin aku kasih nama itu lagi, Ce buat kamu. Tapi kamu Cemong pertama yang kalau ku pendekin namanya, ku panggil Ce' -- yang lain biasanya " Mong atau Emong ". Kamu juga Cemong paling lama yang singgah di rumah. Biasanya anak-anak kucing kayak kamu netap paling lama 2-3 bulan, ibumu suka galak ngusir anak-anaknya, tapi kamu di rumah hampir 6-7 bulan ke belakang. Kamu pun gak pernah jalan jauh-jauh dari garasi dan jalanan depan rumah. Sadar kali ya kamu, kamu tinggal di negara yang hancur lebur, jadi memang tempat yang aman ya di rumah aja, toh dunia kucing gak perlu bayar pajak, kan.  Aku panggil kamu "Ce "  juga sebenarnya baru-baru ini kan, Cemong . Gara-gara aku nonton SORE dan selalu dengar Yandy Laurens manggil Sheila Dara, Sye waktu promo filmnya, makanya aku panggil kamu itu . Lucu aja di aku manggil kamu gitu-- dan kamu...

Cinta Pertama dan Terakhir

Apa yang akan kamu lakukan ketika cinta pertamamu datang kembali ke hidupmu?  Perasaan seperti apa yang akan hadir pertama menyelimutimu? Pikiran macam apa yang akan pertama kali muncul di dalam kepalamu? Apa ekspektasi yang kemudian tak akan terhindarkan muncul? Kira-kira pikiran dan pertanyaan semacam itu yang muncul di dalam benak saya, ketika pertama kali tahu bahwa SORE: Istri dari Masa Depan, sebuah webseries karya filmmaker yang saya kultus habis-habisan, Yandy Laurens (bisa dilihat di review saya di karyanya yang lain, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film) diumumkan akan dibawa ke layar lebar. Karya Yandy tersebut, memang seperti cinta pertama bagi saya. SORE bahkan technically membantu saya menemukan cinta pertama saya ketika duduk di bangku SMA-- ketika suatu waktu saya dapat "meracuninya" untuk maraton webseries ini-- yang membuatnya kemudian memilih beberapa lagu Adhitia Sofyan menjadi yang terfavorit baginya, selayaknya saya yang dipilihnya sebagai manusia favoritny...