Langsung ke konten utama

Menanti Kiprah Sang Messiah

Sumber: bola.net

Belanda tak memiliki banyak prestasi dalam konteks sepak bola. Negara yang 350 tahun menjajah Indonesia ini tercatat tak memiliki satu pun gelar dunia. Namun, hal itu tak berarti Belanda tak memiliki peran dalam perkembangan sepak bola dunia. Belanda merupakan salah satu negara yang produktif menancapkan tonggak inovasi pada sepak bola modern. Sebut saja inovasi taktik macam total football, peran Johan Cruyff dalam menginisiasi tiki-taka yang merubah marwah Barcelona bahkan sepak bola modern, hingga pembinaan pemain muda yang diimplementasikan raksasa Ajax Amsterdam yang konsisten memproduksi bintang-bintang kelas dunia.

Kini atensi dunia sepak bola kembali mengarah kepada Belanda. Tepatnya pada seorang juru taktik yang menjajal panggung besar liga paling kompetitif dunia, Erik ten Hag. Per musim 2022/2023 pelatih berkepala pelontos ini akan menahkodai klub pengoleksi gelar terbanyak Liga Inggris, Manchester United. Track record ten Hag bisa dibilang cukup menjanjikan. Catatan kepelatihannya mulai tersorot saat menjadi pelatih Bayern Muenchen II setelah sebelumnya melatih klub Eredivisie, Go Ahead Eagles. Di Jerman, ten Hag mempelajari pakem-pakem tiki-taka turunan armada Pep Guardiola yang melatih tim utama. Selang Pep hijrah ke Inggris, ten Hag memilih untuk hijrah ke kampung halaman untuk mengimplementasikan pakem taktik yang dipelajarinya. Utrecht adalah tim yang ia latih selanjutnya. Peforma Utrecht yang meningkat di bawah tangan dinginnya membuatnya dilacak radar raksasa ibu kota, Ajax Amsterdam. Saat itu ten Hag mengantarkan Utrecht menempati posisi 4 liga sekaligus membawanya menginjak panggung Europa League pada musim terakhirnya. Di Ajax, ten Hag kian bersinar. Sebut saja peforma apik yang mengantarkan Ajax menjajal panggung semifinal Champions League pada 2019. Di musim terakhirnya bersama Ajax, ten Hag pun berhasil mengantarkan Ajax kembali juara liga.

Sumber: Kompas

Dari segi taktikal, ten Hag pun dirasa cukup menarik. Pakem sepak bola menyerang ala Pep Guardiola yang dipelajarinya membuat sepak bolanya proaktif dan memiliki keunikannya tersendiri. ten Hag senang memperagakan sepak bola menyerang dengan kombinasi pressing dengan garis dan intesitas yang tinggi. Progesi bola-bola pendek, pemanfaatan half space, dan role yang lebih advance dan variatif di tiap posisi juga kerap ia tunjukkan. Pun begitu, ten Hag juga dikenal cukup adaptif. Ia sering merombak role fullback di masa kepemimpinannya di Ajax. Daley Blind kerap ia plot sebagai inverted full back di sisi kiri pertahanan Ajax yang kerap mengeksploitasi ruang di tengah. Di sisi lain, ia juga kerap menggunakan Tagliafico sebagai full back klasik yang menjaga kelebaran. Evolusi taktiknya di Ajax juga terlihat selepas kepergian Donny van de Beek yang secara posisi merupakan gelandang No. 10. Ia kerap menggunakan Alvarez dan Ryan Gravenberch sebagai gelandang box to box yang mengisi ruang-ruang yang ditinggal van de Beek dan mengevolusi pakem 4-2-3-1nya menjadi 4-3-3. Ya, ten Hag memang lekat dengan identitas taktik yang bisa disebut atraktif dalam dunia sepak bola hari ini.

Track record dan identitas taktik tersebutlah yang diharapkan mampu memperbaiki keadaan Manchester United. Raksasa Inggris ini memang berada dalam keadaan yang pelik. Peforma buruk di musim lalu, di samping komposisi bintang-bintang berkaliber tinggi akan menjadi tantangan ten Hag yang notabene pelatih yang relatif muda untuk mendobrak peforma United. Revolusi baru pun tergelar di depan matanya.

Sumber: okezone

Revolusinya ini pun agaknya tidak dapat dibilang sebagai sebuah hal yang mudah. Sebab masalah Manchester United tak hanya sebatas peforma tim yang buruk. Ketidakseriusan manajemen dalam mengurus klub adalah potensi hambatan besar yang harus ia lewati. Di sisi lain, gengsi klub sebesar United ditambah suporter yang mulai haus akan gelar akan menghukumnya atas kesalahan sekecil apapun. Pun, legacy yang ditinggalkan Sir Alex Ferguson dan legenda-legenda lainnya kini harus ia pikul di pundaknya. Kini semua mata tertuju padanya dan hanya ada dua probabilitas di hadapannya: Pertama, Ia akan dicatat sejarah sebagai orang yang membangunkan raksasa sepak bola dari tidur hampir satu dekadenya atau hanya kembali menjadi Messiah palsu di bawah bayang-bayang legenda lainnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Empat Lima adalah Kemenangan Terakhir sebab Negara Kita Pengecut dan Durhaka

Saya mengetik kalimat demi kalimat di dalam tulisan ini dengan perasaan yang begitu penuh dan beragam. Rasa yang tak hanya dirasakan sukma secara emosional namun begitu nyata bereaksi pada ketubuhan saya. Ada kemarahan yang tak pernah saya rasakan sebelumnya, yang membuat tangan mengepal tiada henti. Ada perasaan takut yang menyelinap masuk pori-pori yang membuat saya tak bisa duduk dengan cukup tenang. Ada perasaan terluka yang membuat paru-paru saya seolah menghirup udara sekaligus logam-logam tak kasat mata.  Saya menyadari rasa ini akan menjadi normal yang baru ketika saya mendengar nama Andrie Yunus. Setahun lalu, ulahnya mendobrak Fairmont membuat saya menulis begitu panjang mengenai amarah-- hari ini, jeritnya, lukanya, dan keberaniannya mewakili perasaan saya dan seharusnya semua warga sipil di republik ini. Saya bukan orang yang cukup sering bersinggungan dengannya-- interaksi saya sebatas bertegur sapa ketika menghadiri Kamisan atau rapat-rapat koalisi masyarakat sipil-- ...

Cemong

Kamu bukan kucing pertama yang aku namain Cemong. Cemong sepemahamanku berarti noda di muka-- yang mana motif warnamu yang belang-belang bikin aku kasih nama itu lagi, Ce buat kamu. Tapi kamu Cemong pertama yang kalau ku pendekin namanya, ku panggil Ce' -- yang lain biasanya " Mong atau Emong ". Kamu juga Cemong paling lama yang singgah di rumah. Biasanya anak-anak kucing kayak kamu netap paling lama 2-3 bulan, ibumu suka galak ngusir anak-anaknya, tapi kamu di rumah hampir 6-7 bulan ke belakang. Kamu pun gak pernah jalan jauh-jauh dari garasi dan jalanan depan rumah. Sadar kali ya kamu, kamu tinggal di negara yang hancur lebur, jadi memang tempat yang aman ya di rumah aja, toh dunia kucing gak perlu bayar pajak, kan.  Aku panggil kamu "Ce "  juga sebenarnya baru-baru ini kan, Cemong . Gara-gara aku nonton SORE dan selalu dengar Yandy Laurens manggil Sheila Dara, Sye waktu promo filmnya, makanya aku panggil kamu itu . Lucu aja di aku manggil kamu gitu-- dan kamu...

Cinta Pertama dan Terakhir

Apa yang akan kamu lakukan ketika cinta pertamamu datang kembali ke hidupmu?  Perasaan seperti apa yang akan hadir pertama menyelimutimu? Pikiran macam apa yang akan pertama kali muncul di dalam kepalamu? Apa ekspektasi yang kemudian tak akan terhindarkan muncul? Kira-kira pikiran dan pertanyaan semacam itu yang muncul di dalam benak saya, ketika pertama kali tahu bahwa SORE: Istri dari Masa Depan, sebuah webseries karya filmmaker yang saya kultus habis-habisan, Yandy Laurens (bisa dilihat di review saya di karyanya yang lain, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film) diumumkan akan dibawa ke layar lebar. Karya Yandy tersebut, memang seperti cinta pertama bagi saya. SORE bahkan technically membantu saya menemukan cinta pertama saya ketika duduk di bangku SMA-- ketika suatu waktu saya dapat "meracuninya" untuk maraton webseries ini-- yang membuatnya kemudian memilih beberapa lagu Adhitia Sofyan menjadi yang terfavorit baginya, selayaknya saya yang dipilihnya sebagai manusia favoritny...