Apa yang akan kamu lakukan ketika cinta pertamamu datang kembali ke hidupmu?
Perasaan seperti apa yang akan hadir pertama menyelimutimu?
Pikiran macam apa yang akan pertama kali muncul di dalam kepalamu?
Apa ekspektasi yang kemudian tak akan terhindarkan muncul?
Kira-kira pikiran dan pertanyaan semacam itu yang muncul di dalam benak saya, ketika pertama kali tahu bahwa SORE: Istri dari Masa Depan, sebuah webseries karya filmmaker yang saya kultus habis-habisan, Yandy Laurens (bisa dilihat di review saya di karyanya yang lain, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film) diumumkan akan dibawa ke layar lebar. Karya Yandy tersebut, memang seperti cinta pertama bagi saya. SORE bahkan technically membantu saya menemukan cinta pertama saya ketika duduk di bangku SMA-- ketika suatu waktu saya dapat "meracuninya" untuk maraton webseries ini-- yang membuatnya kemudian memilih beberapa lagu Adhitia Sofyan menjadi yang terfavorit baginya, selayaknya saya yang dipilihnya sebagai manusia favoritnya pada saat itu. Maka, selayaknya karya-karya luar biasa lainnya, SORE untuk saya sudah memberikan nilai yang lain bagi penikmatnya, bahkan sebelum dibawa ke layar lebar. Sebab mau tidak mau, pengalaman menonton SORE ketika bentuknya masih terpecah 9 episode sudah menciptakan suatu kelekatan tersendiri bagi saya, yang agaknya memang gemar meromantisasi semua hal. Menariknya, pertanyaan yang muncul di benak saya akan kabar awal mengenai SORE adalah premis dari filmnya itu sendiri-- perbedaannya, Sore adalah cinta terakhir, bukan cinta pertama.
Seperti cinta pertama yang tiba-tiba datang kembali ke hidup pula, saya melihat munculnya SORE dengan tampilannya yang lain sebagai langkah yang berisiko. Terlebih bagi orang macam saya yang sudah menjalin rasa pada versinya yang lama. Rasa familiar tentu akan jadi modalitas yang baik untuk membuatnya menarik perhatian, tapi bagaimana versi baru ini memberikan pengalaman kepada setiap penontonnya adalah hal yang lain. SORE mau tidak mau harus memperhitungkan jarak kedekatan atas versi lamanya untuk dapat meyakini orang untuk datang dan percaya. Sebab terlalu dekat akan membuatnya menjadi sia-sia dibuat dan terlalu jauh bagi sebagian orang (mungkin) akan membuatnya kehilangan daya pikat.
Tapi Yandy jelas sudah memperhitungkan hal ini sebelum saya sotoy menuliskan tulisan ini-- dan saya akan tetap mempercayai hal tersebut, kendatipun itu tidak terjadi. Maka saya menonton SORE dengan memasrahkan emosi saya untuk diaduk-aduk dan dikejutkan oleh cara bertutur Yandy sekali lagi. Sebagai seorang yang didatangi cinta pertamanya, saya menerima SORE dengan lapang dan penuh harap, menaruh risiko untuk dihancurkan sedemikian rupa apabila pada akhirnya pengalaman menontonnya ternyata tidak menggugah saya.
Rasa familiar yang melekat kepada film ini saya rasakan begitu tebal di paruh pertama film. Plot cerita web series barangkali disalin lalu ditempel di paruh awal dengan sedikit pembaruan kemasan set dan karakter. Alunan folk dari "Forget Jakarta" dan "Gaze" dari Adhitia Sofyan menambah lekatnya paruh awal dengan web seriesnya, layaknya bau-bau rempah di meja makan ketika kembali ke rumah orang tua pasca merantau lama. Kelekatan ditambah dengan familiarnya karakter Jonathan yang selain masih diperankan Dion Wiyoko, praktis tidak banyak mengalami perubahan signifikan-- bagaimana ia mengarungi plot yang lebih megah ini masih khas Jonathan yang sama dengan versi webseries.
Sementara itu, perbedaan terbesar sejak menit pertama yang saya rasakan adalah bagaimana karakter Sore ditarik untuk jauh lebih membumi dibanding versi 9 episodenya. Perbedaan yang kentara tentu saja dari pemeran karakternya yang memang berbeda. Sore format feature film ini diperankan Sheila Dara, menggantikan Tika Bravani di format Youtube. Bagi penonton seriesnya seperti saya, hal ini menjadi perhatian utama, sebab Tika Bravani sudah begitu lekat dengan karakter Sore terlebih dahulu. Namun, perubahan ini tidak mengurangi begitu besarnya karya ini. Sore yang dibawakan Sheila Dara boleh jadi Sore yang sama sekali berbeda dengan Sore versi Tika Bravani. Sore di film, terlihat punya karakter yang lebih bright, juga naif dan meledak-ledak apabila dibandingkan Sore versi webseries yang lebih tenang dan keibuan. Di mana, hal ini akan semakin terlihat jelas di paruh tengah film ini. Sedangkan perubahan lainnya juga dialami Karlo yang mengalami perubahan fisik dan peran yang signfikan di dalam cerita. Karlo di film betul-betul menjadi pilar ketiga yang punya semacam motivasi dan kedalaman yang lebih baik dibanding versi seriesnya yang sekadar muncul sebagai pemanis dan pemantik elemen tawa. Glow up Karlo ini juga yang sukses memperkaya emosi yang begitu penuh di resolusi yang mentutup film ini untuk saya. Lalu, munculnya karakter pendukung lain seperti Marko yang jadi penentu plot juga berhasil memberikan perspektif dunia yang lebih luas pada film ini.
SORE sukses menjadi bayangan ideal datangnya cinta pertama yang kembali sampai masuk ke paruh keduanya, yang ditandai masuknya scoring "Pancarona" oleh Barasuara di telinga setiap penontonnya. Setelah itu, SORE bertransformasi keluar dari kepompongnya. Paruh kedua ini adalah titik balik SORE versi film memperkenalkan rupanya, pengembangan plot yang tak terduga membuat setiap penonton akan mengubah posisi duduknya, baik mereka yang sudah akrab dengan seriesnya ataupun pertama kali melihatnya. Pengenalan konflik muncul serupa realita ketika akhirnya saya menyadari bahwa cinta pertama yang datang barangkali sudah orang yang berbeda dari ingatan di kepala. Yandy seolah mengubah cara SORE bertutur. Paruh kedua menyajikan pacing cerita yang begitu cepat namun juga begitu megah tanpa sedikitpun kehilangan kedalaman dan detailnya. Memang, plot seperti ini pun sebetulnya bukan hal yang baru dan bisa kita temui di film lainnya, seperti film animasi Jepang, "Kimi No Nawa (Your Name)", tetapi ramuan Yandy cukup membuatnya punya pengalaman menonton yang cukup berbeda dan membumi. Paruh tengah ini ialah titik di mana penonton seolah diberikan ruang untuk bertanya-tanya, memperhatikan secara sungguh-sungguh layar lebar di depannya, sekaligus ikut menangis merasakan bagaimana frustasinya Sore mengupas setiap segmen false beliefs yang harus ia lewati.
Setelah itu, megah dan kacaunya paruh kedua ditutup dengan lembut dan kalem di awal paruh akhir. Awal paruh akhir ini jadi titik istirahat yang cukup untuk kemudian menyeka air mata serta berharap ada jawaban yang memuaskan atas kekacauan di paruh tengah, sekaligus bersiap-siap barangkali akan dibawa terbang kembali. Paruh akhir sendiri menyajikan resolusi-resolusi yang cenderung aman dan apa adanya. Semuanya disimpan untuk sebuah twist yang disiapkan sebagai gong di akhir film ini.
SORE barangkali memberi tahu saya cara menutup sebuah karya dengan begitu baik. Kesederhanaannya bertutur menuntun saya pada hal-hal besar yang tak terduga di akhir cerita. Memunculkan sebuah perasaaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, namun begitu nyaman dicerna. Detail manis seperti pakaian Sore yang persis sama dengan episode terakhir seriesnya juga memberikan rasa manis tersendiri untuk saya. Menjadikannya tribute yang sempurna untuk mereka yang sudah akrab dengan versinya yang lain. Ini juga membuktikan SORE sukses menjaga jarak dengan formatnya yang lama tanpa perlu terlihat begitu berusaha menjadi berbeda.
Bila kembali dikaitkan dengan perumpamaan datangnya cinta pertama, SORE memang datang sebagai orang yang berbeda. Namun, untuk saya SORE masih datang dengan kadar familiaritas yang cukup untuk membuat saya membuka pintu kembali. SORE berubah menjadi karya yang lebih kompleks dan dalam, namun di sisi lain juga tetap hadir dengan kekacauannya sendiri. Membuatnya turut bertransformasi, berkembang, dan mengisi pengalaman penontonnya yang juga telah bertumbuh dan bertambah luas. Tak heran, meskipun ia berbeda dari ingatan, cinta pertama ini masih membuat saya yakin untuk memilihnya menjadi cinta terakhir dan satu-satunya sembari memeluknya dan berkata, da moram živjeti deset tisuća života, uvijek bih izabrala tebe.

Komentar
Posting Komentar