Kepala saya penuh pukul sebelas lewat empat belas malam ketika tangan mulai menggerayangi keyboard untuk menuliskan tulisan ini. Di kepala terputar suara Biarawati yang sedang mengajarkan saya Agama Katolik ketika SD. Saya bukan Katolik, apalagi pemeluk atau pemercaya Tuhan yang taat. Saya sering ingkar, malas, bahkan skeptis atas eksistensi dan kredibilitas Tuhan. Tapi yang jelas, saya ingat definisi manusia diucapkan sang suster bahwa kita itu makhluk sosial. Lalu setelah itu ia meneruskan kalimatnya dengan definisi "kasih" ala Katolik yang tak begitu saya dengarkan karena sedang sibuk bercerita dengan teman sebangku mengenai episode One Piece terbaru. Saya seyogyanya mempercayai hal tersebut. Bahwa manusia itu makhluk sosial, selalu bergantung pada orang lain, selalu bersimbiosis baik mutualisme maupun parasitisme. Namun, hal tersebut seolah dibantai kenyataan ketika pada akhirnya manusia secara massal terpaksa mengalami near death experience. Pandemi Covid-19 mengelimina...